Am i a selfish?

17 August 2016 § Leave a comment

Mengharapkan seseorang mempedulikan dirimu dengan sungguh, mungkin suatu keegoisan.

Mengharapkan dunia bersahabat, mungkin suatu keegoisan

Atau mungkin itu hanyalah harapan yang bisa membuat diri bahagia?

Katanya, kebahagiaan itu ada di dalam diri kita sendiri. Bagaimana bentuknya?

Semoga, aku bisa menemukan….

Arti dari keegoisan ini.

DAY192-Precious

20 July 2016 § Leave a comment

Terkadang, perasaan takut dan kesepian memang akan terus menghantui.

Mungkin, sampai akhir hayat ia akan terus menjadi sahabat di dekat kita.

Namun, bukan berarti hal tersebut yang dapat menjatuhkan hidup kita.

Mungkin, membenci rasa takut dan kesepian itulah yang akan membunuh kita perlahan.

Akankah lebih baik menerimanya dan membiarkannya ada?

 

Terkadang, curiga itu bagaikan angin yang menghempas sampai ke dalam bagian yang terlihat.

Namun, untuk apakah ada rasa percaya bila terpana dengan kecurigaan?

 

Terkadang, kita hanya perlu percaya bahwa ada harga di balik hidup kita.

Hanya dapat dibayar dengan mencintai diri sendiri.

Percaya bahwa, aku, dia, mereka dan kita sedang bertumbuh bersama. Tak peduli dimana aku sekolah, dimana aku kerja, dimana aku berada.

Mungkin kita memang sedang saling menumbuhkan satu sama lain. Itulah manusia yang tak bisa hidup sendirian. 

Day191- Afraid

19 July 2016 § Leave a comment

Mungkin ketakutan adalah sahabat terbaik dalam hidup ini. Ketidaktentuan dunia membuat hidup terlihat seperti warna hitam yang gelap. Tak kala matahari tiba, air mata pun tak kunjung kering karena melihat dunia yang tak pasti ini.

Cinta, dikatakannya indah. Namun, realita keindahan dari cinta itu tak semudah yang dipertontokan banyak orang. Mengalahkan ego, meluangkan waktu, apakah semua bisa melakukan tersebut demi cinta?

Menunggu? Takkan ada yang menyukai masa-masa harus menunggu menunggu dan MENUNGGU! Ibarat borgol dalam ketakutan, kata itu akan terus mengikat dan menghantui dalam tidur.

Meski pagi telah tiba, malam tak kan pernah terlupakan karena ketakutaannya melekat lebih dari darah yang mengalir dari dalam tubuh.

 

Bagaimanakah harus tenang? Menangis? Belaga cuek? Atau harus bicarakan seakan memenjarakan burung yang harusnya terbang bebas? Mesksipun sayang itu ada, namun bisakah ia menjadi burung?

 

Tentu tidak! Mengalah itukah yang diinginkan oleh cinta? Terus menunggu, menunggu dan menunggu. Hingga membalasanya untuk merasakan yang sama. Lalu, apa setelah itu?

Ketakutan tetap ada dan ada. Sampai ke akar, ia akan menembus batas yang tak terlihat. Hingga akhirnya ia tumbuh menjadi bunga cantik.

 

Kapan? Tidak ada yang tahu, bahkan setan pun takkan bisa menebak kapan ia akan bermekar. Karena ketakutannya hanya dia rasakan, sebagai bagian mencinta diri.

Day190 – It Hurts!

18 July 2016 § Leave a comment

Diam dalam gelap, mungkin itu jadi tempat yang menyenangkan untuk menyembunyikan perasaan ini.

Rasa gemetar di dalam tubuh, seakan bergejolak hingga membuatku ingin berteriak.

Drama? Mungkin terlihat seperti drama, namun rasa sakit ini hanya aku yang bisa rasakan.

Setiap bulan dia datang, diam-diam, tanpa pernah memberikan feeling apapun.

Meski, ada tanda, namun ia hanya banyak bicara dan terkadang tak ditepati hingga beberapa lama.

Menunggu, menunggu, menunggu, menyebalkan bukan?

Saat ia datang, moodku, tak lagi aku kenal. Siapa aku? Mengapa aku? seakan menjadi pertanyaan setiap bulan yang tak terlewatkan.

Belum lagi, ketika tamu datang memasukki tubuhku, hingga menjadi sosok manusia baru. Kau tahu? Detik-detik itulah, perutku bergejolak dengan rasa yang sangat amat tak kumengerti. Menangis, berteriak, menangis, apapun cara yang aku lakukan, sakit itu tetap ada.

 

Sekarang, kau melihat tubuhku, seakan ingin melahap tanpa perlu mencinta dan membuangnya. Lalu, mencari lahapan baru.

Tahukah kamu? Rasa sakit ketika kau melihat, menyentuh dan membuang tubuhku itu melebihi rasa sakit yang akan aku rasakan bila aku terkena penyakit manusia.

Hingga aku ingin mengutukmu lebih dan lebih. Namun, tak bisa aku lakukan itu.

Karena kau adalah manusia. Hanya saja, ingatlah, ibumu, punya sakit yang sama seperti aku, bahkan lebih sakit.

Maukah kamu menyia-nyiakan ibumu, seperti kau menginjak-injak bunga dan memetik yang baru lagi?

Aku yakin, jawabmu tidak. Maka, sayangi bunga yang kau temukan dan biarkan dia bermekar lebih indah.

 

 

 

 

 

*it’s about PMS. Honestly, women hate PMS. No one like it! So, appreciate them!

Day182- First Impression

9 July 2016 § 1 Comment

Ada saatnya ketika “first Impression” alias kesan pertama menjadi hal yang menentukan apakah kita akan menyukainya atau tidak?

I believe, you will not proud with that. Menilai seseorang dari kesan pertama bukanlah hal yang membanggakan. Terkadang, hal tersebut justru menjadi bumerang buat kehidupan.

Mungkin, awali kesan pertama dengan mencoba mengenali dan mengingat, bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

You don’t need expect too much about everyone. Because it will hurt you. Cukup menghargai setiap orang yang datang dalam hidup kamu, maka kamu akan menciptakan kesan pertama yang terbaik.

Mungkin, ini saatnya kamu berpikir positive bahwa ketika kamu berpikir akan hal itu, kamu pasti akan mendapatkan hal yang positive tersebut.

Cukup awali perkenalan terhadap setiap orang dengan senyum, dengan rendah hati dan percaya bahwa mereka bisa jadi teman.

Mungkin, inilah hal sederhana yang harus kamu lakukan, sebelum menilai lebih jauh lagi tentang orang tersebut.

 

#SelfReminder

Day 175 – STOP BEING ADDICTED?

2 July 2016 § Leave a comment

Terkadang, aku berpikir, apa rasanya kembali pada dunia, ketika aku tidak bisa mencari tahu orang-orang sekitarku melalui internet? Hidup di luar dunia “kekepohan” internet. 

Mungkin aku akan  mengenal teman-teman, keluarga dan kekasihku, hanya sungguh dari cerita mereka. Mempercayai, hanya sungguh dari apa yang mereka lakukan. Tanpa perlu mengotak atik ataupun mencari-cari siapa temannya, apa yang dia lakukan, telah kemana saja dia pergi, dan sebagainya melalui  dunia  “kepoh ”

Memang, aku bekerja di dunia ini. Memang, dunia ini tidak semenakutkan yang dikira. Namun, aku mulai merasa bahwa aku harus menghadapi dunia ini dengan caraku sendiri. Dunia yang membuat aku menjadi seseorang. Mungkin,  lebih penakut dari diri aku sendiri atau, justru menjadi lebih pemberani? Ah, akhirnya itu hanya pilihan dari bagaimana aku melihatnya.

Kenyataan pahit, aku terlalu terbawa dalam arusnya sehingga  sering aku terluka akan asumsi yang terlihat dari dunia kepoh ini. Seringkali pula aku tertawa dengan asumsi tersebut. Tidak pernah luput juga, satu hari dari pertanyaan tentang apa yang aku posting di dalamnya.

Ya, aku dan mereka lah telah menjadi bagian  dunia kepoh yang aku hidupi saat ini di dunia nyata.

Tidak perlu aku membenci, kamu membenci atau kita membenci. Mungkin, kita hanya perlu melihatnya dari kacamata yang berbeda. Kacamata bernama mimpi. Mengapa? Terkadang impian itu ada di dalam dunia tersebut. Seperti, melihat dunia luas, memiliki pasangan, rumah ataupun goal life lainnya yang ingin kita raih. Sehingga akhirnya kita sungguh mengejarnya.

Tidak perlu pun kita iri, namun, hanya perlu berjuang dan buktikan pada diri sendiri bahwa “aku pun bisa meraih impian seperti yang aku lihat.”

Tidak perlu membenci, apabila yang terlihat adalah hal-hal yang menakutkan. Mungkin, mereka ada sebagai peringatan untuk menyadarkan kita bahwa, dunia, dimana pun itu, tidak seindah apa yang ada di dalam bayangan kita.

Tidak perlu kita memusuhinya. Mungkin, dunia itu bisa membuat kita menangis sekaligus tertawa. Jadi, bagaimana? Nikmatilah.

Lalu, mengapa aku, kamu dan mereka menjadi  “pecandu di dalam dunia kepoh?”

Mungkin, itu tidak luput dari naluri kita yang tidak dapat hidup sendiri. Kita membutuhkan orang lain, bagaimana pun juga, saat mata kita terbuka di pagi hari, kita akan melihat berbagai jenis orang di dunia ini.

Hanya saja, “dunia kepoh” ini membawa kita pada dunia yang seakan terlihat seperti “masa depan” atau mungkin “masa lalu” atau “masa sekarang.”

Mungkin, kita hanya perlu berhenti berpikir terlalu rumit tentang dunia kepoh itu. Mungkin, dunia kepoh itu hanya ingin memperlihatkan kita pada kenyataan bukan pada asumsi, bukan pada mimpi belaka.

Ah, asumsi, inilah hal yang tidak aku suka dari dunia ini. Melihat orang-orang, berasumsi, bahkan menghakimi tanpa mengetahui apa yang ada di dalamnnya. Padahal, kenyataaan mungkin berbeda. 

Haruskah aku berhenti?

Ada saatnya, aku akan pergi meninggalkan dunia kepoh ini. Bukan karena aku tidak menyukainya, hanya saja, aku masih harus mengejar mimpiku yang tidak ada lagi di dunia kepoh. Itu adalah mimpi kecilku yang selalu aku bawa dalam tidurku. Aku ingin menjadikannya nyata, senyata-nyatanya, seperti aku melihat diriku sendiri.

Lupakan kalau dunia kepoh ini adalah bagian hidup. Bagaimana bila menjadikan dunia kepoh sebagai pemanis? karena membiarkan dunia kepoh ini masuk dalam bagian hidup, hanya akan membuat kita berasumsi sering salah asumsi akan sekitar kita, terburuknya, mungkin akan membuat kita kehilangan segala-galanya yang nyata di dalam dunia ini. Jadikan dia teman, bukan terbaik, bukan musuh. Hanya teman, sebatas teman untuk bekerja, untuk menemukan apa yang tidak bisa ditemukan di dalam dunia ini. 

 

#MyWish : i want to see myself, 5 years from now, i become a real writer, not a social media writer, but a real creative writer. 

START THE CHALLENGE #10DaysLiveInRealLife #10DaysWithoutStalking #10DaysStartWritingOnJournalBook #10DaysWith10Dreams

Challenge Accepted!

Day171- Words

28 June 2016 § Leave a comment

Dulu, aku tidak terlalu percaya kata-kata itu akan memberi kekuatan, harapan dan hidup. Namun, semuanya berubah seketika. Kata-kata itu bagaikan bahan utama dalam hidup, tanpa kata-kata, mungkin tidak ada hidup yang baik. Sama seperti kue, kalau tidak ada tepung, sebagai bahan utama, kue tersebut tidak akan bisa jadi kue yang cantik.

Terkadang, dalam perjalanan hidup, kata-kata lah yang sering membuat tenang.

Kata dalam hati, ketika dibicarakan dengan ketulusan, harapan dan positif, maka akan membawa kita pada mimpi yang menjadi kenyataan.

Kata dari orang lain, walaupun hanya sekedar, ” hati-hati”, “jangan lupa makan”, “semoga hari menjadi baik” dan sebagainya, selalu akan membawakan ketenangan bagai angin yang berhembus di antara pada rerumputan hijau.

Kata dari orang tua, tetap akan menjadi nasihat, baik atau buruk, biarkan telinga mendengar untuk mengerti akan hidup sesungguhnya.

Hanya saja, terkadang sebagai manusia, hal yang paling sering terlupakan adalah berkata dengan baik tanpa menyindir, menyinyir, ataupun mengutuk.

Itulah mengapa, banyak nasehat mengatakan  “gunakan mulut mu hanya untuk berkata baik”

 

#SelfReminder

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,419 other followers