Ketika aku…

17 August 2007 § 1 Comment

Sekarang waktu telah bergulir. Aku tidak bisa berbalik arah. Harus terus berjalan hingga akhirnya aku menemukan akhir dari ceritaku. Ketika aku berjalan, aku harus melalui dua pilihan. Adalah pilihan yang terutama dan yang lain adalah pilihan tambahan. Iya atau tidak bukan lagi pernyataan. Yang terjadi sekarang adalah di antara dua pilihan itu selalu kutemukan kekurangan dan kelebihannya.

Waktu yang dulu tak bisa terulang lagi. Berbalikpun aku tak mampu. Menghilangkan semua kenangan hanya menjadi sebuah kesia-siaan. Aku yang dulu sedikit berubah dengan aku yang sekarang. Yang sama adalah ketika aku sendiri. Aku terkuasai oleh pikiran buruk akan hidupku. Kesedihan yang hanya membuat masalah dalam diriku. Terkadang aku bisa mengalahkannya ketika hari itu terlalui dengan penuh tawa bersama sahabat-sahabatku. Namun ketika aku sendirian saja, aku menjadi membisu dan terdiam. Kesepian yang mungkin bisa tergambar olehku.

Dikala kuhadapi semua kesulitan itu. Ketika itu pula aku tersadari, kalau aku mampu menghadapinya. Jangan biarkan masalah mengontrol hidupmu, tetapi kontrolah setiap masalah itu. Apa arti dari semua itu? Mungkin ketika aku menghadapi masalah terbesar dalam diriku yaitu sosok seorang aku, sebisa mungkin aku dibuat untuk bisa mengontrol itu semua. Moodku, emosiku, kesedihanku bahkan kebahagiaanku.

Dalam penantian panjangku, menunggu bukanlah hal yang membosankan lagi. Ketika menantikan kehadiran seseorang, bagaikan menantikan sebuah hadiah ketika aku berulang tahun. Menyedihkan aku mungkin terpirkir. Namun, keadaan seperti itu adalah keadaan yang sangat langkah. Menanti seseorang yang terbaik yang suatu hari nanti akan tidur di sampingku dan untuk selamanya menemani hari-hariku adalah hal yang terindah. Yang ternantikan dan tak mungkin bisa terulang lagi setiap moment berharga itu.

Berpisah, sering kualami. Dalam sejarah persahabatanku, sahabat terlamaku adalah 3 tahun bersahabat. Setelah melewati masa-masa bersama, bertemu teman baru, jadilah dia sahabatku. Tetapi ketika aku mencari sahabat sejatiku, selama 19 tahun Dia telah menemaniku. Takkan habis dimakan waktu persahabatan itu. Dialah TUHANku. Bapa yang telah menciptakan aku.

Berharap ini bukanlah sebuah tawa. Namun perjalanan ini adalah sebuah anugerah. Melewati tiap detik waktu yang bergulir cepat terasalah singkat. Akan tetapi, ketika berjalan diantara waktuNYa yang penuh misteri, hari terasa penuh kejutan yang tak diduga sekalipun. Ketika aku sendiri, aku tak pernah benar-benar sendiri. Mungkin tak ada orang di sampingku, tapi sebuah kejutan menghampiriku, bertemu teman-teman baru, menjadi hadiah untuk hidupku.

Jadi, jika aku menjadi diri sendiri, ketika aku harus menghadapi musuh terbesarku, aku bisa berjalan bersama TUHANku dan menemukan setiap jawaban dari ukiran kesedihan itu.

§ One Response to Ketika aku…

  • Gegem says:

    Salam kenal,

    Gw dah baca beberapa tulisan loe. Kalau kosakata loe lebih diperkaya lagi, gw yakin tulisan-tulisan loe bakal jadi lebih bagus (bukan berarti tulisan-tulisan loe yang sekarang ga bagus).

    Apa loe sudah pernah mempublikasikan tulisan loe dalam bentuk buku/novel/kumpulan puisi/dll?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Ketika aku… at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: