BERTAPA

29 November 2008 § Leave a comment

Keluarga. Harta terindah yang bisa aku miliki di dunia ini. Tidak dengan uang tetapi sebagai hadiah terindah dari sang Pencipta. Menetapkan aku dirumah yang menjadi tempat berteduh. Menumbuhkan diriku di antara perbedaan tidak terkira. Aku begini, mereka begitu. Diatur dan mengatur. Demi kebaikan aku dan mereka. Berceletuk riang, menangis bersama. Menusuk luka dan saling mengobati. Bermimpi untuk menjadi sebuah keluarga yang termanis untuk dikenang hingga akhir hayat. Mengharapkan cerita baru di balik setiap goresan luka menyayat hati.

Ayah. Seorang lelaki, sosok yang berpengaruh besar bagi anak dan istrinya. Dia bukan figur ayah seperti yang dimiliki oleh orang lain. Aku akui, bukan seorang yang bisa bangga dibicarakan bagi beberapa orang yang memiliki ayah seperti ayahku. Tetapi dia telah menjadi pelabuhan bagi kehidupan aku. Meskipun gunjingan orang karena sifat buruknya selalu terdengar dan tatapan amarah menusuk pelipur hati. Tetapi dia adalah ayah. Pahlawan yang memberikan aku pelajaran berarti setiap harinya. Mungkin dulu aku sempat membencinya,tetapi sekarang cintaku meluap tidak tertahankan. Bertapa aku merindukannya.

Seminggu setelah kau pergi.Teman silih berganti… menghiburku.Ku berkata, semua teratasi.Dan terus sembunyi di balik senyum pals.Setahun setelah kau pergi.Ku masih sembunyi di balik senyum palsu.Tolong bantu aku.Melewati semua. Secuplikan lirik lagu “Bertapa” yang dinyanyikan oleh sheila on 7 ini membuat aku teringat pada hari kepergiannya. Tanpa mengucapkan salam perpisahan. Meninggalkan kepahitan yang terbendung dan terkadang menyayat hati.Bertapa aku merindukannya.

Tidak bosan aku menceritakan tentang dia. Dahulu, saat tiba dirumah, dia kerap kali memanggil namaku memintaku melemparkan atau mengambilkan celana pendek untuknya. Dia duduk di dekat meja makan yang terletak di depan televisi dan bertanya sudahkah aku makan malam ini. Kemudian mengambil makanan dan makan sejenak. Setelah itu dia akan mengambil rokoknya lalu menyalakannya dengan duduk mengakat kaki kanannya ke atas bangku seperti abang becak yang sedang mangkal. Dengan bertelanjang dada dia menujukkan wajah lelah dan penat yang tidak tertahankan. Menjelang pukul 9 malam dia akan beranjak ke kamarnya bertemu sang istri untuk meminta bir bintang yang disembunyikannya. Setelah itu dia akan meminum sebotol bir bintang- terkadang lebih dari satu botol-.Tidak lama setelah menghabiskan minumannya, ia akan menaiki tangga menuju ranjangnya. Merebahkan diri sejenak. Seringkali, ia terbangun di tengah malam.

Sekarang, aku tidak bisa lagi menikmati kebiasaannya. Ya, dulu aku benci kebiasaanya memanggil dan menyuruh aku, secara dia memiliki anak lebih dari satu. Tetapi sekarang aku merindukannya. Aku merindukan aroma rokoknya. Walaupun aku membenci wajah murungnya, tapi aku merindukan seuntai senyuman dibibirnya. Aku merindukan celetuknya padaku. Aku merindukan saat-saat aku pergi pada malam hari dengannya untuk mencari santapan iseng. Aku merindukan saat aku pergi nonton bersama kakak dan ibu.  Bertapa aku merindukannya.

Bertapa hancurnya hatiku. Lebih berkeping-keping. Saat kau tidak kunjung kembali. cepat pulang cepat kembali jangan kau pergi lagi….-firasatnya marcel- Aku merindukannya. Bertapa aku merindukannya. Dia adalah ayah yang tidak sempurna tetapi dia ayah yang terbaik dalam hidupku.

“merindukan ketika kehilangan” seakan menjadi kalimat yang selalu menggenangi pikiranku. Bertapa sakitnya aku ketika kalimat ini menjadi nyata terjadi dalam perjalanan kehidupan aku. memang belum untuk selamanya, tetapi aku telah kehilangannya. Ayah yang kurang bertanggung jawab adalah ayahku. Ayah yang suka bertaruh adalah ayahku. Ayah yang pemabuk adalah ayahku. Ayah yang melengkapi hari-hariku. Bertapa aku merindukannya.

teruntuk ayah

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading BERTAPA at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: