CATATAN SI HIJAU

29 March 2009 § Leave a comment

Waktu saya kecil, saya suka mengoleksi stiker. Berbagai gambar lucu dan jenis sticker yang berbeda-beda menghiasi buku saya. Dari yang berbentuk micky mouse hingga jenis kertas yang seperti kain halus pernah saya miliki. Suatu hari, buku stiker saya rusak karena saya meletakkannya di kamar saya di lantai dasar akibatnya terkena air banjir yang tiba-tiba.

Apa sih bedanya cap sama stiker? Cap itu tertempel pada sebuah kertas, namun dia susah diapus atau di cabut. Tapi kalau stiker masih bisa dicabut dan ditempel sesuka hati kita selama lemnya masih basah atau menempel.

Saya mengibaratkan kedudukan seorang sebagai cap. Ya, yang membedakan seorang yang satu dengan seorang yang lain salah satunya adalah “ status”. Kalau dalam suatu pertemuan, orang akan menyebutkan statusnya sebagai direktur atau ketua atau apapun itu. Tidak perlu jauh-jauh, hampir 60% anak muda maupun tua suka berada di dunia maya alias bermain internet. Di setiap profil Facebook ataupun friendster atau profil account apapun itu, selalu ada keterangan mengenai “ status “.

Tidak heran banyak orang yang berusaha menjadikan statusnya hebat sehingga melakukan kebohongan. Contoh nyata, jelas-jelas udah punya pacar tapi nulisnya single. Mereka melakukan itu dengan berbagai motivasi. Tapi dari pengamatan saya, salah satu motivasi terbesar yang terjadi adalah karena “ prestise” atau gengsi atau sok eksis. Emang segitu pentingnya ya status itu?

Menurut saya, ya, memang sedikit banyak status itu penting. Tapi dalam kadar yang sebaiknya dan di tempatkan dengan sesuai. Bukan berarti harus jadi di jadikan alat untuk “ menjadikan diri hebat”. Kenapa? Yang menentukan kehebatan itu bukan status, tapi perilaku. Status itu mudah di hapus, tapi perilaku itu sulit. Ibaratnya, status itu tertulis di selembar kertas yang bisa di robek, sedangkan perilaku itu seperti nasi telah menjadi bubur. Artinya, apa yang terjadi ga bisa dihapus atau di ulang lagi.

Jujur, saya sering terpikir untuk mengejar status. Saya merasa hebat bila status saya dilihat orang. Tapi semakin hari saya sadar, buat apa orang cuma liat status saya, sedangkan diri saya dianggap sampah? Lebih baik saya menjadi sampah yang di liat dari pada menjadi emas yang di cemooh.

Sadar tidak sadar, orang akan berusaha menjadi emas tapi sebenarnya dia hanya menjadi sampah. Ibaratnya, orang membeli tas terkenal yang mahal banget tapi selama 3 bulan dipake terus, kulit tas itu rusak. Kebanyakan hidup orang tergantung dari merek yang dipakenya. Semakin mahal merek itu, semakin terlihat hebat. Padahal merek sama kehebatan itu berbanding terbalik.

Pernah denger lagu peter pan kan? TOPENG. Buka dulu topengmu. Lagu ini cocok buat semua orang, ga cuma orang yang lagi pacaran. Kenapa? Karena sebagian besar muka kita tertutup dengan topeng. Karena merasa ingin menjadi yang paling hebat dari yang lain. Emang kalau kita udah hebat apa untungnya? Menguasai banyak hal, tapi melihat orang lain menderita apakah itu hebat? Menyombongkan kekuasaan, tapi dilihat hanya sebagai sampah, apakah itu hebat?

Tidak ada seorang yang bisa menjadi hebat bila dia hanya ingin terlihat hebat di depan orang lain. Orang yang hebat adalah orang yang bisa terlihat hebat untuk dirinya sendiri. Dalam artian, dia bisa mengerti apakah yang diperbuatnya, bisa menjadikan orang lain tersenyum atau malah justru membuat orang lain menertawakannya. Dia seorang yang melakukan segala sesuatunya dengan ketulusan. Tidak hanya ingin dilihat orang semata, tapi ingin belajar bersama orang lain.

Kesannya memang egois. Mario Teguh pernah berkata, semua balik lagi ke diri sendiri. Segala sesuatunya terjadi berawal dari diri sendiri. Sejak SD, saya selalu diajarkan untuk memberi dengan tulus, untuk percaya pada diri sendiri.

Kicauan burung di luar sana lebih kencang dibandingkan suara dalam hati. Makanya, kebanyakan kita lebih suka mendengar kata orang dibandingkan dengan merasakannya sendiri. Ibaratnya, puisi cinta yang gombal itu bisa menyentuh hati seorang gadis yang cantik tapi gadis itu tidak pernah merasakan ketulusan perilaku sang penyanjung. Mulut itu lebih sakit dibandingkan tamparan dipipi. Semua bisa melakukan kebohongan, mengintimidasi bahkan bisa mengahasut hanya dengan berkata.

So, lihat kembali diri sendiri. Apakah memang kita benar-benar ingin menjadi hebat? Atau sekedar dilihat orang? Ga perlu takut ga dilihat orang. Hampir 70% manusia di dunia ini bisa melihat kow. Ga perlu dandan layaknya boneka Barbie untuk dipuji orang lain. Memuji diri sendiri itu membuat kita jauh terlihat cantik daripada dipuji orang lain. Ibaratnya, mereka itu pengamat kita. Tetapi diri kitalah alat untuk kita hidup.

Kehebatan itu kembali pada diri kita sendiri. Everything begin with yourself. People can talk anything about you, but they can’t judge you because of what you did.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading CATATAN SI HIJAU at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: