Bukan Aku

2 June 2010 § Leave a comment

“Oke aku sudah tidak tahan lagi! Jangan terus biarkan aku jadi diriku!”

Bunyi geledekpun menggelegar.

“ Aku anggap KAU DENGAR! Kau tahu aku benci DIRIKU! Aku ingin jadi seperti dia, dia, dan dia!!! KAU TAHU Itu??”

Sekelibat cahaya saling bersautan di langit, rintikkan air mulai membasahi jalan tempat Emma berpijak. Entah apa yang terjadi, seketika semua menjadi gelap. Tanpa ada setitik cahayapun.

*****

“ Mer, Mer.. BANGUN!”

Suara memanggil, kepalaku pusing.

“ Mer! Akhirnya dia bangun. Kau sudah bangun?” tanya Melan.

“ Dimana aku?” tanyaku setengah sadar.

“ Kau dirumah sakit. Syukurlah, kau sudah bangun. Tadi kau pingsan saat jumpa pers. Kau ingat?”

“ Jumpa pers?”

“ Iya,peluncuran album terbaru kamu. Kamu tidak ingat?” tanya Melan bingung.

Album? Sejak kapan aku bikin album? Seingatku, aku tidak ada disini. Aku berada di depan sebuah ged..

“Tanggal berapa sekarang? Dimana ini? Siapa kamu?” tanyaku bingung.

“ Aku panggilkan dokter,” ujar Melan sambil melangkah pergi.

Ini bercanda bukan? Aku mencoba mengingat-ingat kembali, apa yang gerangan terjadi. Aku bangun dari tempat tidurku, memandang sekeliligku, pakaianku, tanganku. Tanganku? Ini bukan tanganku. Aku berusaha berdiri dan berjalan perlahan menuju kamar mandi. Aku menemukan cermin. Aku pejamkan mataku, sebelum akhirnya aku sungguh-sungguh berdiri di depan cermin itu. Ada perasaan takut, tidak biasanya aku terbangun dengan perasaan setakut ini.

Baiklah. Aku harus siap. Perlahan aku membuka mataku, ku lihat cermin dan itu bukan aku. Ini bukan aku. Ini bukan tubuhku! TIDAK! Ini siapa? Tidak. Seketika pandanganku semakin bertanya, siapa aku? Ini, seperti yang pernah aku lihat. Ini seperti, ah. AKU INGAT! Ini seorang wanita yang tersenyum bahagia di… di…

“Mer…” panggil Melan sambil memegang pundakku. Aku terpana kaget mendengarnya. Aku melihatnya dan seorang pria disampingnya yang memakai baju putih. Sungguh, aku tidak ingat, bukan aku tidak tahu dimana ini. Dan siapa dia?

“ Mer, kau baik-baik saja? Dokter Edward akan memeriksamu,” kata Melan sambil menuntun aku kembali keranjang.

“ Mer, aku akan mengajukan beberapa pertanyaan padamu, kau siap?” tanya dokter itu.

Aku menggangguk siap.

“ Kamu tahu,siapa dirimu?”

“ Hah?”

“ Siapa namamu?”

“ Aku… ak…”

“ Kau lihat wanita yang disampingmu, siapa dia?”

Aku melihat wanita yang disampingku. Aku melihat dia, dan mencoba mengingat namanya. Tapi aku tetap tidak tahu. Aku menggelengkan kepalaku. Aku memandang kembali mereka dengan bingung. Apa yang terjadi padaku? Apa lebih baik aku bertanya?

“ em.. apa yang terjadi denganku?”

“ Sudah 4 hari kau tidak bangun dari tidurmu.”

“ Kenapa?”

“ Kau mencoba bunuh diri,” ujar Melan.

“ Kenapa aku mau bunuh diri?” tanyaku bingung.

“ Kau.. kau..em..”

“ Kau depresi berat akibat statusmu yang berubah mendadak. Kau menjadi terkenal dalam sekejap, dan  kau mengalami kemunduran pula dalam hidupmu,” lanjut Dokter Edward menjelaskan.

“ aku tidak mengerti apa maksud dokter?”

Aku ingat, ini wanita yang aku lihat itu. Benar, aku pernah, tidak , aku berpikir seandainya aku menjadi dia. Dan aku menjadi dia! Aku didalam dirinya sekarang! Tapi, kenapa dia bisa depresi? Dia mendapatkan semuanya? Dan saat aku melihat dia tersenyum, dia terlihat bahagia sekali, tapi kenapa?

Seketika kepalaku kembali pusing, dan aku tidak bisa menahan diriku lagi. Dan sekelilingku menjadi gelap, gelap sekali.

“ Hei, tunggu! Kemana kalian? Hei!!! HEI!! JANGAN PERGI!!!!”

*****

Sekarang, pemandanganku berubah, aku tidak lagi dirumah sakit. Aku berada disebuah ruangan, dan ini seperti kamar. Aku perhatikan sekelilingku. AKu melihat dan ini bukan kamarku. Ada sebuah foto disudut kamar, aku mendekati foto itu. Dan aku lihat, itu bukan foto Merry ataupun aku? Itu foto seorang wanita yang pernah aku jumpai. Dia temanku! Iya, dia temanku. Dia yang memiliki keluarga yang harmonis, dan setiap kali aku melihat mereka, aku iri sekali dengan keharmonisan mereka. Aku ingin punya keluarga seperti mereka. Benar, aku ingin sekali bisa tertawa dan makan bersama ayah dan ibuku. Tiba-tiba, aku mendengar suara kaki berlari didepan kamarku.

“ ASTRID!! ASTRID!!” teriak ibu sambil mengetuk pintu.

Aku berlari ke arah pintu itu berada, dan membuka pintu. Aku melihat ibu Astrid seperti sedang marah besar.

“ Maaf tante, aku bukan Astrid.”

“ JANGAN BERCANDA ASTRID! Ibu, ibu…ibu…” ujar ibu memelukku dan menangis.

“ Ada apa?” tanyaku pelan-pelan.

“ Aku sudah tidak tahan lagi. Kau harus tahu kebenarannya astrid. Dia tidak bisa melarangku berkata yang sebenarnya.”

Apa maksudnya? Aku bukan Astrid! Kenapa dia menangis dan langsung memelukku? Aku sudah mengatakan aku bukan dia. Tapi, dia terus memanggilku Astrid dan dia bercerita. Dia menceritakan sesuatu yang tidak aku mengerti. Apa ini?

“ kau harus tahu Astrid, aku dan ayahmu mencintaimu. Tapi sekarang kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Kami tidak bisa berpura-pura lagi dihadapanmu. Kami…”

Tunggu, tunggu. Keluarga Astrid saling mencintai dan bahagia. Kenapa berpura-pura?

“ kau dan kakakmu sudah besar. Kami yakin kalian bisa menerimanya. Sungguh, kami memang saling mencintai, tapi kami tidak bisa…”

TIDAK! Astrid tidak mungkin jadi broken home! Aku yakin sekali, ini kesalahan. Dan kenapa dia menceritakan semuanya padaku? Kenapa? Astrid sangat bangga pada ayah dan ibunya, dan merekapun bangga padanya. Astrid punya segalanya.

Tapi kenapa? Kenapa ini?TIDAK!!! TIDAK!!!

Aku tidak bisa mendengar perkataannya, air mataku tak tertahankan lagi, apa yang terjadi? Apa ini? Ada apa ini?

Pusing, kepalaku kembali pusing, aku menggelengkan kepalaku, dan aku berlari keluar dari kamar. Aku  mendengar dia berlari mengejarku dan memanggil nama Astrid. Aku berlari turun kebawah, aku melihat seorang pria setengah baya terlihat sangat fustrasi sekali dan aku melihat seorang lelaki muda, yang sedang terlihat marah. Itu kakak Astrid, dia tidak pernah marah. Mereka saling mencintai.

Aku tidak mengerti. Kenapa mereka bisa saling menyakiti? Kenapa? Aku kembali berlari dan menuju pintu rumah. Aku keluar dari rumah itu. Aku berlari terus dan terus aku berlari. Aku tidak mengerti.

Akhirnya aku sampai di sebuah pertokoan. Aku berjalan, dan terus berpikir, apa yang terjadi? Kenapa aku bisa menjadi Merry dan berada di rumah Astrid? Apakah aku juga menjadi Astrid? Oh TUHAN! TIDAK! Aku benar-benar di tubuh Astrid?

Aku memegang kaca toko didepanku, meraba-raba wajahku. Aku tida percaya, aku benar-benar menjadi Astrid? Ada apa ini? Aku berjalan mundur, menjauhi kaca itu. Dan suara klakson mobil, menyadarkan aku. Aku mendengar suara berisik sekali, aku lihat sekelilingku, ramai-ramai sekali. Kenapa ini? Dimana aku? Kenapa banyak orang disini? Kenapa banyak orang disini?

Tidak!! TIDAK!!! Aku kehilangan keseimbangan, aku tidak sanggup berdiri lagi. Akhirnya aku jatuh berlutut, kedua tanganku menutup mukaku, air mataku masih terus mengalir, aku sungguh tidak mengerti. Sungguh tidak tahu. Sesak, sesak sekali. Sekelilingku menggerubuti aku dan bertanya dan berkata dan TIDAK!!

*****

Semua berubah lagi. Ya, berubah lagi. Dimana aku? Putih, sekelilingku putih. Mereka pergi. Tidak ada siapa-siapa lagi sekarang. Hanya aku. Siapa aku sekarang? Siapa aku? Dimana ini?

Aku mencium bau yang tidak sedap. Bau apa ini?

Aku mencari-cari asal bau itu. Ah, aku berada dimana ini? Tidak! Ini di tempat… aku melihat tubuhku, pakaianku compang camping. Dan ini bauku! Aku sangat bau! Siapa aku?

Aku berjalan dan terus berjalan. Ini sebuah kota yang tidak aku kenal. Ini sebuah tempat yang aku tidak pernah ingin berada disini. Ini …

“ HEI! HATI-HATI kalau jalan!”

“ BUTA ya kau!”

“ PAKAI MATA KALAU JALAN!”

Kenapa semua orang tidak ramah padaku? Kenapa? Aku duduk dipinggiran jalan, mengingat-ingat kembali lagi. Apa yang terjadi padaku? Aku menjadi seorang yang bukan aku. Jiwaku dan tubuhku, berbeda. Ini aku, tapi ini BUKAN AKU!!

*****

“ Kat, terima kasih banyak ya sudah membantu aku. Sudah mau mendengarkan ceritaku,” ujar Sely.

Aku membuka mataku. Ini bukan di kota itu lagi. Aku berada di sebuah kantor? Bukan, sekolah? Aku lihat seorang didepanku. Seorang wanita berterima kasih padaku. Aku menatapnya bingung, dan dia melihatku dengan bingung juga.

“ Kau tidak apa-apa?” ujar sely lagi.

“ Aku dimana?” tanyaku penasaran.

“ Kau ada di kampus. Kau habis mendengar ceritaku. Terima kasih banyak ya atas nasihatmu. Aku senang bercerita denganmu,” kata Selly, lalu ia berdiri dan meninggalkan aku dibangku sendirian.

Cerita? Apa yang diceritakannya padaku? Aku bangkit dari tempat dudukku, dan berjalan keluar. Ini kampusku! Aku sudah kembali normal? Apakah ini diriku? Tidak mungkin, aku tidak memiliki teman yang suka bercerita denganku. Biasanya aku yang bercerita pada teman-temanku. Dan kenapa semua menatapku dan tersenyum padaku?

Begitu melihat cermin, aku langsung berlari dan aku melihat ini bukan aku! Masih belum menjadi aku! Ini Kathy, seorang teman sekelasku yang memang banyak disukai oleh teman-temanku dan aku iri sekali padanya. Dan sekarang aku menjadi Kathy? AKu punya banyak teman? Dan banyak cowok yang naksir sama aku? Akhirnya, aku merasakan menjadi Kathy?

“ Dia cewek tidak bener!”

“ Ia, dia rebut cowok aku!”

“ benar aku juga!”

Aku mendengar bisik-bisik. Mereka membicarakan aku, tidak tapi Kathy? Kenapa Kathy? Selama aku mengenalnya, dia sangat baik dan dia tidak pernah merebut cowok orang lain. Dia memang memiliki banyak teman dan disukai banyak orang. Kathy hampir sempurna menjadi seorang wanita. Aku berjalan kembali dan bertanya-tanya, kenapa aku? Perasaan apa ini?

Perasaan yang tidak pernah aku rasakan. Dan aku bertemu dengan aku. Dia tersenyum manis. Apa ini? Aku iri pada diriku sendiri? Akukan Kathy? Aku telah menjadi seorang yang aku irikan, kenapa aku harus iri lagi pada diriku? Tunggu, ini jiwaku apakah ini perasaanku juga? Apa ini perasaan Kathy? Kathy iri padaku? Apa yang harus dia irikan dariku?

“ Hei!”

“ HAH?? APA?” teriakku kaget. Seorang lelaki memakai baju putih, berdiri di belakangku, memegang bahuku dan Dia terlihat manis sekali. Siapa Dia?

“ Bagaimana rasanya?” tanyaNya padaku.

“ Rasa apa yang kau maksud?”

“ Menjadi diri  dia, dia dan dia?”

“ Aku tidak mengerti?”

Dan seketika dia menghilang dari hadapanku. Dia pergi begitu saja. Aku berteriak memanggilNya, tetapi dia tidak menjawab. Dan kosong. Tahu-tahu aku tidak lagi berada di kampusku, atau rumah sakit, atau kota yang kubenci, atau di rumah Astrid, sekelilingku putih, kosong. Dan aku melihat mereka. Iya ini hidup mereka! Dimana aku?

“ HEI!!! DIMANA AKU?? AKU INGIN KEMBALI!!!”

*****

“ Kau sudah mengerti?” tanya seorang laki-laki padaku.

Ah, Dia yang aku lihat di kampus kemarin. Dia yang aku panggil dan tidak menjawab panggilanku. Iya, aku tahu Dia.

“ Ada apa denganku?” tanyaku penasaran.

“ Hei, berbahagialah menjadi dirimu sendiri. Sekeras apapun kau iri pada orang lain dan ingin menjadi seperti mereka, kau akan menghadapi badai yang sama. Tidak ada seorangpun didunia ini yang tidak akan terkena badai. Semua akan terkena badai,” ujarNya lembut.

“ Apa maksudmu?”

“ Lihat dirimu. Lihat sekitarmu. Lihat mereka.”

Sekilas aku melihat wajah ayahku, ibuku, kakakku, temanku, orang-orang yang aku kenal. Mereka tersenyum semua padaku. Aku melihat mereka menangis, mereka marah, mereka sedih.

“ Mereka mencintaimu dan menyukaimu apa adanya,” lanjutnya.

Aku melihat, mereka yang pernah aku sakiti. Mereka menyerukan namaku. Mereka yang marah padaku? Mereka membicarakan aku?

“ Mereka membenciku!” ujarku marah.

“ Tidak, mereka menyukaimu,” balasNya.

Aku melihat diriku. Ya, itu aku! Aku ingat! Aku habis berkelahi dengan ibuku. Iya, aku ingat. Aku ingin keluar dari rumah ini. Karena aku tidak sanggup lagi hidup dirumah ini. Aku tidak sanggup lagi. Aku ingat semuanya. Lukakku sakit sekali, ya aku sakit! Aku lari dari rumah itu. Dan iya, aku kerumahNya, dan aku berdoa padaNya. Aku ingat sekarang.

Aku berteriak dan memohon padaNya. Aku benci sekali pada diriku, SANGAT BENCI pada hidupku. Iya, aku ingat, aku ingin menjadi seperti mereka. Bertapa inginnya aku, menjadi terkenal, punya banyak uang, punya keluarga yang menyayangi aku, disukai banyak orang, punya banyak teman. Dan kenapa semua berasa kosong? Tidak ada artinya? Dan mereka punya masalah yang sama seperti aku. Hidup mereka tidak sebahagia yang aku kira.

“ Ya, kau benar. Mereka tidak sempurna seperti yang kau pikirkan. Mereka sama sepertiku. Cintailah dirimu. Apapun yang terjadi dan yang kau lakukan itu hidupmu. Mereka bukan kamu, dan kamu bukan mereka. Kamu adalah kamu,” katanya kembali padaku.

“ aku adalah aku?”

“ Kau suka menulis, dan semua tulisanmu dibaca banyak orang. Kau baik apa adanya. Semuanya baik. Kau baik menjadi diri kau. Kau baik ketika semua orang tersenyum padamu. Meski kau tidak memiliki banyak uang, kau tidak memiliki apapun, kau tetap kau. Kau berharga.”

“ Sungguhkah itu?”

Aku melihat mereka kembali, aku mendengar suara mereka. Aku mendengar suaraku, aku… ah bertapa bodohnya aku! Kenapa aku harus menjadi seperti mereka, kalau aku bisa bahagia dengan diriku ini? Bodohnya aku. Ini aku, ini hidupku. Aku…

Harus bersyukur dengan aku apa adanya aku.

the end-

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Bukan Aku at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: