Semakin untung, semakin kaya, semakin gaya

16 June 2010 § Leave a comment

Pemandangan indah terlihat disebuah meja makan. Makan malam menjadi rutinitas sehari-hari bagi keluarga. Duduklah seorang ayah dengan handphone ditelinganya, seorang ibu dengan handphone ditangannya, seorang anak dengan PSP ditangannya. Mereka makan bersama dan melakukan aktivitas masing-masing secara bersama pula. Percakapan yang bisa didengar adalah seorang ayah yang sedang membicarakan bisnis dengan rekannya, seorang ibu yang sedang asyik menggenggam handphonenya dan seorang anak yang sedang bermain dengan gadget terbarunya.

Mungkin, pemandangan indah inilah yang sering terjadi dan terlihat dalam sebuah keluarga belakangan ini. Tidak bisa dipungkiri, bahwa perkembangan di segala hal telah terjadi secara pesat. Sebuah awal dari perkembangan tersebut, membuat terjadinya banyak pertanyaan dan yang menjadi awal pertanyaan adalah apakah dampak dari perkembangan itu?

Namaku adalah Media

Perkenalkan, namaku media. Aku terlahir mungkin sejak awal dunia terbentuk dan kalau dihitung aku sudah melalui perjalanan selama 2000 tahun lebih. Jujur, aku tidak diam saja ditempat tapi aku terus dan terus berkembang sampai waktu yang tidak aku ketahui. Mungkin, sampai murkanya sang pencipta? Aku tidak tahu. Tapi inilah aku, tetap ada dan terus berkembang.

Awalnya, mungkin tidak banyak orang yang mengenal aku, tapi semakin berkembangnya jaman, lihatlah aku yang selalu dikejar-kejar dan uangku bisa dikatakan lumayan banyak. Bayangkan, seseorang rela membayarku berapapun supaya bisa menjadi temanku dan supaya dia bisa terkenal. Mungkin, buat sebagian orang aku adalah Tuhannya.

Tapi, tentu saja aku tidak bisa seenaknya membiarkan orang mengenalku tanpa membalasnya alias tanpa pamrih. Buat beberapa orang, bolehlah aku tulus berteman dengannya. Tapi tetap, sebagai manusia aku memiliki sifat ‘simbiosis mutualisme’. Kalau dalam pelajaran biologi, artinya adalah saling menguntungkan. ‘ Gue untung, lu untung, kita untung’ kira-kira begitulah yang menjadi sifat dasarku.

Jadi, jangan harap berteman denganku kalau tidak mau memberikan keuntungan. Kenyataannya, banyak yang mau berteman denganku dan bahkan aku sangat dibutuhkan oleh banyak orang. Kebanyakan dari mereka suka menulis, menggambar, memotret atau melukis semua hal yang dilihatnya, didengarnya dan dirasakan. Mereka sangat akrab denganku. Seakan, akulah Tuhan mereka. Ya, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya.

Beruntunglah, tidak semua orang memanfaatkanku seenaknya. Ada juga yang memanfaatkanku secara positif. Beruntung, masih ada orang-orang yang berteman tulus denganku. Tapi, tidak enaknnya aku, bisa dibilang karena keistimewaanku ini, aku memiliki banyak musuh. Mereka memanfaatkan aku, ‘ benar-benar memanfaatkan’ aku secara pribadi, dengan berbagai cara. Bahkan,sering menusuk dari belakang. Bukan menusukku, tapi ‘memakai’ aku untuk menusuk dari belakang ‘sesuatu’. Intinya, sesuatu yang jahat. Ya, aku berani bilang jahat karena memang mereka melakukan seperti tidak punya hati dan seperti dialah ‘Tuhannya’.

Ya, inilah dunia dengan berbagai perbedaan yang ada. Terkadang menyenangkan, dan terkadang menyakitkan. Tapi apa daya, semakin lama aku seakan menjadi ‘ hakim’ dan seperti dituntut untuk mau memberikan dan menjadi perantara semua hal di dunia ini. Sungguh berat menjadi aku, tapi sungguh menyenangkan juga menjadi aku. Sama seperti manusia lainnya, aku adalah aku, dengan berbagai keistimewaan.

Inilah sekilas tentang aku dan apa yang aku lakukan. Hmm, balik lagi ke perkembangan yang terjadi padaku. Aku sama seperti bayi yang baru dilahirkan dan semakin lama semakin bertambah besar dan menjadi dewasa. Akhirnya, dewasa ini, aku semakin dibutuhkan oleh banyak orang. O ya, aku semakin maju. Semakin digunakan, semakin ‘menguntungkan’. Seperti yang sudah aku katakan, dan inilah kenyataan orang-orang berlomba-lomba untuk bisa berteman dengan aku. Tentu saja dengan berbagai tujuan, terkadang baik dan terkadang buruk.

Tapi kembali, aku hanyalah manusia biasa. Sempurna? Tidak juga. Lemah? Tidak juga. Kuat? Tidak juga. Hanya saja mungkin dibutuhkan supaya semakin ‘untung’. Semoga semakin ‘untung’ dalam arti positif. Tapi kenyataannya… sebelum dilanjutkan, aku ingin memperkenalkan sahabatku bernama Teknologi.

Sahabatku Teknologi

Sahabat terbaikku, terlahir di tahun bahkan mungkin dihari yang sama. Kita berdua bagai pinang dibelah dua dan bersimbioasis secara mutualisme. Dia sama seperti aku, terlahir dan semakin berkembang. Perjalanan kita berdua bisa terbilang sama. Seperti yang aku katakan, kita bersahabat karib.

Hubungan kita sangat dekat sekali. Bisa dibilang, tanpa dia, aku bukan apa-apa. Mungkin aku hanya jadi selembar kertas kosong yang akan usang dan dimakan kutu. Tapi, beruntunglah kehadiran dia, membuat aku bisa berkembang sampai saat ini. Dia juga sama terkenalnya dengan aku. Dan banyak dicari oleh orang-orang.

Kisah kehidupan kita bisa dikatakan mirip. Hanya saja, semakin lama dia berkembang semakin, bisa aku bilang terlihat menakutkan. Dan terkadang pula itu memberikan dampak buruk bagiku. Mungkin juga bagi orang-orang disekitar kita. Bukan mungkin lagi, tapi kenyataannya memang sudah terjadi. Ada banyak ‘kasus’ terjadi akibat dia yang berkembang semakin pesat. Pergesaran budayapun semakin lama terjadi karena dia semakin berkembang pesat. Tapi, dia tetap teman terbaik. Hanya saja, masih banyak yang memanfaatkan dia untuk ‘keuntungan’ semata bahkan supaya ‘dirinya’ senang tanpa mempedulikan orang lain.

Masalah kitapun sama. Terkadang, aku benci menjadi aku dan diapun benci menjadi dirinya. Kenyataannya banyak ‘akibat’ yang terjadi karena adanya kita. Ya, seperti yang sudah aku bilang, ada yang positif dan ada yang negative. Kalau yang terjadi adalah positif, kita akan sangat gembira sekali seperti seorang istri yang mengetahui di dalam dirinya ada nafas baru alias ‘hamil’ atau akan punya anak. Tapi kalau negatif, rasanya hati kita terpecah-pecah, berat kita semakin menurn, dan seakan kita ingin lompat dari gedung tinggi karena tidak kuat lagi menahan beban yang berat ini.

Bahkan hantu ‘gagal’ sering juga membuat kita mengeluarkan air mata. Apalagi, kalau kita digunakan sebagai hakim yang harus mengadili dan menuding. Rasanya, menyakitkan. Mungkin sakit, tapi sangat menguntungkan dan bisa membuat kaya. Ya, balik lag seperti yang sudah aku bilang kalau banyak yang menggunakan kita supaya bisa bertambah kaya.

Si teknologi ini, bisa dikatakan memberikan suatu ‘gaya’. Dalam arti, kalau berteman dengan dia, kita akan diakui dunia. Bahkan kalau ada yang menemukan anaknya yang baru lahir, bisa sangat amat terkenal. Dan balik lagi, kenyataannya terkadang membuat dunia terasa sepi dan pertengkaran kerap kali terjadi.

Kenyataannya…

Yap, inilah kami yang dipakai mereka. Mereka berteman dekat dengan kami. Seperti yang kau lihat, di dalam sebuah keluarga itu. Dan itulah kami yang ada ditangan mereka. Dan kami akan memperlihatkan banyak lagi, sepuluh, seratus, seribu bahkan jutaan lebih, mungkin juga lebih banyak lagi. Intinya, tiap hari, tiap detik, banyak yang memperkenalkan dirinya kepada kami dan menjadi teman kami.

Banyak cerita nyata tentang perkembangan yang terjadi pada aku dan teknologi.  Dalam dunia mengirimkan pesan, tidak ada lagi burung merpati yang berlalu lalang untuk mengirimkan surat, yang ada banyaknya tempat makan menyediakan wi-fi bahkan hampir selurh orang memiliki handphone untuk mengirimkan pesan. Dalam dunia menyampaikan pesan, jarang sekali ditemui yang namana telegram, yang ada pesan disampaikan melalui iklan secara elektronik. Dan banyak hal lagi yang terjadi. Dunia semakin mudah, dunia semakin besar dan dunia semakin penuh dengan’kepintaran’.

Pahit atau manis?

Semoga yang ada adalah kenyataan yang manis. Tapi selalu, tidak semuanya bisa terlihat manis, tetap saja ada kenyataan pahitnya. Teman-temanku lebih menyukai berkomunikasi melalui alat daripada secara langsung. Lihat saja pasangan itu, mereka memutuskan berpisah melalui sms. Atau lihat saja sang ayah, dia meminta maaf melalui pesan di YM. Memang tidak semua seperti mereka. Balik lagi, inilah perbedaan. Ada yang pahit dan yang manis. Sekarang dimanakah kamu?

Perenungan

Perkembangan teknologi memang menyenangkan,bila semua orang bisa menerima secara positif. Namun yang terjadi, tidak semuanya menerima secara positif. Semua orang berlomba-lomba untuk ‘semakin untung, semakin kaya, semakin gaya’ dengan segala cara. Sehingga menggeser keberadaan ‘sang Pencipta’. Semua seakan hanyalah untung supaya kaya dan memiliki ‘nama’ yaitu ‘gaya’.

Kalau tidak punya blackberry seakan dunia berhenti berputar. Ekstrimnya seperti itu. Dan kenyataan sekarang, siapa yang tidak punya handphone? Banyak. Tapi siapa yang sungguh mengenal ‘Dia’ sang pencipta atau kita hanya terpesona padaNya?

Terpesona atau sungguh mau mengenal? Inilah dua hal yang berbeda. Ketika ‘rumahNya’ diduakan, atau dijadikan motif ‘gaya’ disitulah Tuhan menangis. Ketika kita memohon semakin ‘kaya’ dalam duniawi, disitulah hati Tuhan terluka.

Beruntunglah kita, TUhan bukan seorang yang menganut ‘simbiosis mutualisme’ tersebut. Mungkin, kita bisa berkomunikasi melalui media dan teknologi yang ada, yang semakin berkembang dan bahkan terpukau sangat dengan janji duniawi. Tapi beruntunglah kita, nyatanya Tuhan tidak meninggalkan kita sendirian bukan?

Dunia tetap diberikan warna padaNya. Keberadaan perkembaangan jaman dari hari semakin hari, bukan membuat dunia semakin kiamat tapi memberikan satu pelajaran akan ‘kewaspadaan’. Supaya kita tidak jauh terpukau pada duniawi tapi kita tetap ingat padaNya.

Memang bukan hal yang mudah, ketika dipilihkan pada  ‘pelayan gereja’ atau ‘kerja seharian demi gaji besar’. Tidak bisa dipungkiri, kalau kita tidak untung, kita tidak kaya dan tidak bisa gaya. Tapi balik lagi, itu berarti kita tidak percaya pada apa yang diberikanNya pada kita. Justru kita memang terpukau pada ‘emas dan perak’.

Inilah tugas kita, merenungkan dan melakukannya. Selalu ada kata tidak mudah,tapi percayalah, ketika kita sungguh-sungguh berpegang padaNya, kita bisa melakukan semuanya dengan baik. Semuanya dengan sangat baik. Karena memang ‘Semua baik’ ditangannya.

Sekarang pertanyaannya, mau menjadikan teman seperti apakah kita dengan ‘perkembangan media dan teknologi’? balik lagi pada suatu kenyataan, yang menentukan maju atau mundur moral dan nilai yang ada adalah diri kita sendiri.  Semoga perkembangan itu bisa menjadi nilai yang sangat manis dalam perjalanan kehidupan kita.. dan semoga kita sungguh mengingat ‘Dia’ selalu dalam setiap pekerjaan dan apa yang kita lakukan.

dan pada akhirnya kenyataannya, semua yang menguntungkan, yang membuat kita kaya dan semakin gaya berasa sangat ‘biasa’. tapi ketika kita hidup biasa saja, semua akan terasa ‘luar biasa’.

bermimpilah sampai langit ketujuh, jadikanlah tujuan hidupmu, tapi jangan sampai terpukau dengan apa yang dijanjikan dunia. karena tidak akan abadi. tapi selalulah lihat janjiNya yang sangat Indah dan selalu baru disetiap waktu.KasihNya yang tulus, tidak berdasarkan ‘simbiosis mutualisme’ ^^

ketika dunia semakin maju, tetap pegang tanganNya dan tetap pegang janjiNya, jangan sampai justru kita melepaskan tanganNya dan melupakan janjiNya.. ^^

^^

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Semakin untung, semakin kaya, semakin gaya at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: