Wangiku, hijauku, cahayaku

7 January 2011 § 1 Comment

“Cintailah Lingkungan.”

Kata-kata inilah yang sering terdengar di telingaku, terlihat di berbagai spanduk sudut kota, dan terbaca olehku di berbagai artikel. Apalah arti sebuah kata, bila tidak dilakukan pada kenyataannya. Bunga mawar yang berduri, tak lagi sewangi dulu. Ke

harumannya telah hilang. Apakah sampah hanya sebatas kotoran rumah tangga? Tidak. Ludah dan air kecil yang terbuang dari tubuh kita adalah sampah. Ironisnya, masih banyak orang yang tidak mempedulikan sekitarnya dan tetap membuangnya di sembarang tempat.

Mereka membuang ludah, seakan jalanan itu adalah tong sampah. Mereka membuang air kecil di dekat pohon atau di dekat tembok, seakan pohon atau tembok itu adalah kamar mandi. Sadarkah bahwa sebenarnya yang mereka lakukan adalah buruk karena menimbulkan polusi. Bau pesing dimana-mana dan air liur yang terinjak-injak, bukankah itu  bisa menimbulkan polusi?

Bumiku tidak lagi sewangi dulu. Mungkin kalau bumi bisa berkata, dia akan berkata “kembalikan wangiku!”

Lalu, di sudut kota, teriakkan “panas” terdengar begitu kencang. Sindir menyindir kepada matahari terus dilakukan,  dikala panas panas terik menyerang.Mengeluh padanya karena seakan ” hidup di kota mati “. Di kala hujan turun, mereka malah mengeluh kepada awan hitam. Dimana kita dulu sebelum semuanya berubah menjadi seperti “neraka” dalam bumi?  Ah, mungkin sekarang sudah terlambat berkata seperti ini. Tapi tidak ada kata terlambat untuk mulai bertidak bukan?

Kalau inginkan tidak lagi terjadi banjir, mengapa harus terus menerus membangun  gedung di tanah yang semakin sempit ini? Dimana hijauku bisa berdiri? Mungkin, jika bumi bisa berkata, dia akan teriak ” Kembalikan HIJAUKU!”

Yang tersisa  sekarang adalah kita yang masih mencintai sahabat kita, bumi, untuk bertindak sebagai cahayanya. Harapan untuk membuat bumi menemukan kembali cahayanya masih ada. Seperti sebuah cerita yunani kuno, tentang sebuah kotak pandora. Ketika kotak itu terbuka, semua hal-hal buruk keluar dari dalam kotak itu dan yang tersisa di dalam kotak itu adalah HARAPAN. Ya,kotak pandora di bumi ini telah terbuka,namun lilin-lilin kecil masih terus menyala.

Bumi telah berkata pada kita, “jadilah cahayaku.”  Maka,sudah saatnya kita  harus mulai bertindak. Stop buang sampah sembarangan! Sungguh cintailah lingkunganmu!  Tindakan kecil kita, bisa berguna  tapi bisa juga merugikan untuk bumi ini. Berpikirlah sebelum bertindak.  Yang terlihat baik, sebenarnya bisa saja buruk. Begitu pula sebaliknya.

Saat membuang ludah sembarangan, ingatlah kata-kata yang sejak kecil telah di ingatkan pada kita “JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN!” Ludahmu adalah sampah dari dalam tubuhmu. Jadi, bumi yang sudah berpolusi ini jangan lagi di kotori dengan polusimu!

Saat hendak buang air kecil di dekat tembok atau pohon, bayangkan kalau tembok atau pohon itu meringis kesakitan dan bumi yang melihatnya menangis karena wanginya telah ternodai oleh bau pesingmu.  Bukankah itu akan membuat bumi marah dan lingkunganmu menjadi kotor karena tindakan kecilmu itu?

Sudah saatnya sekarang berhenti dari kebiasaan buruk kita, untuk lingkungan kita. Bumi sudah sakit, dia sudah terintih kesakitan, jadi mengapa kita harus masih menyakiti mereka?

Kalau tanah di bumi ini semakin sempit, hijau-hijau pohon masih banyak yang  hidup. Sekarang saatnya kita menanam pohon-pohon disekitar lingkungan kita. Tindakan kecil kita ini, bisa berguna.

Iklim sudah berubah, kita harus deal dengan keadaan itu. Sebelum bumi dalam kondisi yang  semakin parah, kita perlu mencegahnya.Kalau mereka bisa peduli dan mencintai lingkungannya, mengapa kau tidak? Cobalah buka pintu hatimu

sedikit, dan lihatlah bumi yang sudah berteriak kesakitan. Bantulah sahabat kita, bumi kita.   Dengan

berhenti dari kebiasaan buruk yang bisa menimbulkan polusi. Meski tidak separah asap kendaraan, tapi polusi tataplah polusi yang berbahaya bagi bumi dan diri kita juga.

Mencegah  lebih baik daripada mengobati. Sebelum semakin parah, mulailah bertindak sekarang.

Wangikan kembali bumi, hijaukan kembali bumi dan biakan bumi menemukan kembali cahayanya.

Jakarta, 7 Januari 2011

By Irene Wibowo.

sumber gambar: Google search.

gambar pertama : http://metta.blog.friendster.com/2010/05/dilema-pecinta-lingkungan/

gambar kedua :  http://www.google.com/imgres?imgurl=http://4.bp.blogspot.com

§ One Response to Wangiku, hijauku, cahayaku

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Wangiku, hijauku, cahayaku at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: