Detik Terakhir

26 January 2011 § Leave a comment

Nafasku sesak tak bertenaga lagi. Aku menatapnya. Tapi yang kulihat hanyalah kenangan tentangnya. Dia dahulu, dia yang dulu memelukku hangat, dan pergi meninggalkanku.

 

*****

5 tahun sebelumnya,

“ Kau janji, tidak akan meninggalkanku?” tanyaku.
Dia memelukku, dan menghapus air mataku, lalu berkata, “ aku janji.”

*****

Di suatu pagi,

“ KENAPA? KENAPA?” teriakku di depan wajahnya.

“ Dengar dulu penjelasanku!” ujar lelaki itu menarik tanganku.

“ JANGAN PEGANG AKU LAGI! BULLSHIT!” teriakku pergi meninggalkann lelaki itu.

****

Rumah Sakit Pondok Indah, 4 desember 2008, pagi-pagi.

“ Kamu tidak apa-apa?” tanya lelaki itu.

Aku membalasanya dengan senyum.

Tiba-tiba, nafasku tersengal-sengal. Ku lihat wajah paniknya.

Dia pergi meninggalkanku, kenangan 5 tahun lalu, membekas.

“ Jangan tinggalkan aku! Please bertahanlah!” seru lelaki itu dalam tangis memegang erat tanganku, ketika dokter dan suster memindahkan aku ke ruang operasi.

Mengapa baru sekarang? Setelah janjimu kau khianati , dan sekarang di detik-detik terakhir kau memohon padaku.

Selamat tinggal, kau kenanganku, dan aku jadi sesalmu.

“ Maaf, kami tidak bisa menyelamatkannya.”

“ TIDAKKK!!!!” teriak lelaki itu sambil menangis, dan pergi berlari menuju ruang operasi.

 

 

Dimuat juga di http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2010/11/19/detik-terakhir/

Tagged:

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Detik Terakhir at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: