Aku Merindukannya

14 August 2011 § 2 Comments

Kehilangan seorang ayah bukanlah hal yang menyenangkan. Terbayang, bertapa susahnya menjadi seorang ayah. Dimana dia harus berjuang untuk di cintai anaknya. Mungkin dia akan menyadari, suatu hari anaknya tak lagi peduli padanya. Mungkin dia menyadari, satu kesalahan akan membuat anaknya membencinya seumur hidup. Dia bagaikan sebuah pohon yang harus tetap berdiri kokoh meski harus ditimpa berbagai angin. Bagaimana bila anaknya membencinya? Dia akan sedih, mungkin lebih sedih daripada kehilangan pekerjaan yang dicintainya. Dia berjuang tidak hanya untuk memberi makan keluarganya, namun dia berjuang untuk membahagiakanya. Bukan pekerjaan yang mudah, mungkin lebih dari pekerjaan yang sangat menakutkan. Namun dia menyukai pekerjaan itu. Ketika anaknya berusia 1tahun, pertama kali ia dipanggil “ayah”. Seakan sungguh melihat nyata darahnya mengalir dalam tubuh anaknya. Seakan ingin melindungi dan mencintainya sampai akhir hidupnya. Seakan ia ingin terus dicintai anaknya. Seakan ia ingin terus ucapkan doa hingga anaknya dewasa. Seakan ia ingin terus dipanggil “Ayah” hingga waktu menutup usianya.

 

Haruskah aku bersyukur? Ya. Aku merindukan pelukan ayah. Aku merindukan tidur disamping ayah. Aku merindukan kumis tipis yang tumbuh di bibir aya. Aku merindukan canda tawa ayah. Aku bersyukur ayah masih ada, meski tidak setiap hari aku melihat ayah. Aku merindukan ayah pulang kerumah. Aku merindukan ayah mengajak aku makan di luar. aku hanya merindukan ayah.

 

Mungkin inilah keluarga. Ketika satu tidak berkumpul seakan tidak utuh rumah ini. Segala sifat buruk yang menumpuk dalam satu rumah, seakan mudah dikalahkan ketika satu keluarga duduk di ruang tv, sambil ngobrol, bercanda gurau, membicarakan impian masing-masing. Meski hanya omong kosong belaka, tapi aku merindukannya.

 

Tidak ada yang bisa sungguh membenci keluarganya. Tidak ada yang bisa menghilangkan namanya dari keluarganya. kebencian dalam keluarga akan ada, namun cinta selalu akan mengalahkannya. AKu belajar dari keluargaku. Aku belajar untuk takut kehilangan. Aku belajar untuk takut dibenci. Aku belajar untuk takut menjadi lemah. Aku belajar untuk takut menjadi pelit. Aku belajar untuk takut egois. Aku belajar untuk takut membenci keluargaku.

 

Karena sesungguhnya aku takkan bisa hidup tanpa mereka. MEski mereka tidak terlihat mendukungku, tapi aku tahu mereka mendoakanku setiap malam. Tak berhenti mengucapkan harapannya tentangku, tentang rumahku, tentang masa depanku, tentang kenangan di keluarga ini yang ingin terulang kembali.

 

Aku merindukan semua senyum di keluarga ini. Ayah, ibu, kakak, aku mencintai kalian.

 

Hanya coretan belaka.

Tagged:

§ 2 Responses to Aku Merindukannya

  • […] Kehilangan seorang ayah bukanlah hal yang menyenangkan. Terbayang, bertapa susahnya menjadi seorang ayah. Dimana dia harus berjuang untuk di cintai anaknya. Mungkin dia akan menyadari, suatu hari anaknya tak lagi peduli padanya. Mungkin dia menyadari, satu kesalahan akan membuat anaknya membencinya seumur hidup. Dia bagaikan sebuah pohon yang harus tetap berdiri kokoh meski harus ditimpa berbagai angin. Bagaimana bila anaknya membencinya? Dia aka … Read More […]

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Aku Merindukannya at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: