Langit

14 August 2011 § Leave a comment

Aku pejamkan mata. Menggenggam pena, duduk tegak di depan kertas putih. Ku tengokkan kepalaku ke atas langit. Diam.

Aku buka perlahan mataku. Di bawah angin yang berhembus di kamarku, ku tatap lekat langit di atasku. Diam.

Sudah lama. Terlalu lama. Hanya ada aku disana. Ku lihat foto yang tertempel di sudut dinding kamarku. Ku lihat dia dalam pelukkanku. Namun, semu.

Berhentilah mengkhayal! Serangkai doa tertulis nyata sejak bertahun lalu. Berharap Dia mengirimkan jawaban kepadaku. Namun, semu.

Baiklah! Terserah padaMu!
Ku tatap kembali langit. Air mata mengalir di atas pipiku, terasa perih akan rindu. Ingin berteriak, hanya bisa diam. Namun, nyata.

Aku inginkan dia!
Ku pejamkan mata. Terdengar bunyi getar. Ku lihat handphoneku bergetar. Sebuah nomor tak ku kenal. Ku hapus air mataku. Ku angkat telepon itu. ” Aku di depan! Keluarlah!”

Ku jalan menuju jendela. Ku tatap dia. Ku tatap langit. Ku tatap dia kembali. Ku tak percaya, namun nyata.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Langit at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: