Selalu

31 August 2011 Comments Off on Selalu

Aku selalu membayangkan diriku duduk di dekat jendela ditemani segelas coklat panas. Tunggulah aku, ucapmu sebelum pergi. Selalu aku menjadi pihak yang menunggu. Hingga terkadang aku tidak tahu rasanya bagaimana bila aku tidak menunggu. Aku benci namun entah mengapa terkadang aku menyukai masa menungguku. Apalah artinya menunggu satu jam, dua jam, tiga jam, hingga aku tidak tahan lagi. Ya, detik demi detik telah berlalu. Ku lihat jam di tanganku yang telah berhenti berdetak.

“ Ada yang bisa saya bantu lagi?” tanya seorang waiterss menghampiriku.
Aku tersenyum sambil membereskan barangku , bangkit berdiri dan berjalan keluar pintu. Aku menarik nafas dalam-dalam. Rasanya aku ingin menangis, namun aku melarang diriku. Aku keluarkan bungkus rokokku. Mengambil sebatang rokok dan menghisapnya. Dulu, aku orang yang membenci rokok, entah mengapa aku lelah menjadi seorang yang kontra. Aku belajar merokok sendiri.
****

Hidup itu keras. Saking beratnya seringkali perjalanan ini seakan tidak ada logikanya. Semua kebohongan dijadikan trik untuk kebaikan. Minus seakan menjadi nilai plus. Sungguh membosankan. Setiap berjalan, harus menggali mood untuk merasakan kebahagiaan. Setiap bahagia, harus dilubung ketakutan. Menyedihkan.
Aku berjalan menyusuri malam. Melalui waktu, melalui perjalanan yang pernah kutempuh bersamanya. Berhenti di setiap tempat dimana kau menyuruh aku menunggu. Aku lelah menunggu. Namun, entah mengapa aku selalu merasa aku harus menunggu.
****
Diam. Aku hanya bisa berhenti sejenak. Menatapnya dari kejauhan. Berharap dia tidak melihatku. Aku hanya berdiri seperti patung, saat dia mendekatiku. Memberikan kecupan manis di pipiku, tersenyum dan berkata, “ Maafkan aku, mengapa kau pergi? Aku mencarimu kemana-mana.”
Aku hanya bisa terdiam ketika melihatnya. Apa yang harus aku lakukan? Aku lelah menunggumu yang kian datang dan pergi. Terkadang aku ingin melewatkanmu, namun ketakutan selalu merumbungiku bagaikan aku adalah lalat.
Aku benci tatapan itu. Aku benci dia. Aku dorong tubuhnya, menjauhi pelukannya. Aku berlari meninggalkannya. “ TAKSI!” teriakku di pinggir jalan.

*****
Selalu aku harus berlari. Aku merindukan hari bersamanya. Aku selalu membayangkan senyumannya. Mengapa aku terlalu takut untuk jujur pada diriku sendiri? Aku berhenti di sebuah café malam. Memesan bir , mengambil kembali sebatang rokok. Ku hisap, ku rasakan kenikmatannya, ku teguk segelas bir. Diam. Ingin rasanya menangis.

Seorang pria menghampiriku. Dia menatapku dan menggodaku. Aku bangkit berdiri, mengambil selembar 100rb dari dalam dompetku. Berjalan keluar dari café itu. Aku melihat segerombolan pria dan wanita masuk ke dalam. Ku lihat mobil yang berlalu lalang.

Inilah hidupku. Sekuat aku memaksa untuk menjadi tetap menjadi seorang gadis lugu, aku hanya seperti mendorong tembok di depanku yang jelas takkan bisa pernah aku dorong. Menyedihkan? Tidak!

*****
Sudah puluhan kali aku melihat BBku. Dia terus menghubungiku, mengirimkan aku pesan. Setiap kali aku lari darinya dia selalu mencariku. Saat aku menunggunya, dia meninggalkan aku. Aku muak! Aku matikan BBku, mengambil sebatang rokok dan kuhisap lagi. Sudah tiga batang hari ini. Biasanya, aku hanya menghisap satu per hari. Aku diam sejenak, ku sadari hidupku terasa hampa.

Air mata tidak bisa terbendung lagi. Aku berjalan menyusuri malam, menangis. Aku lihat bayang diriku di bawah sinar rembulan, berantakan.

*****
Selalu dia ada di saat aku menangis. Dia berjalan menghampiriku. Pria yang sama, yang membuat aku jatuh cinta sekaligus takut terluka. Pria yang membuat aku selalu menunggu sepanjang perjalananku. Dia memelukku dan hanya diam. Tanpa berkata.

Selalu dia membisikkan maaf. Dan semua kembali sama.

Aku selalu membayangkan diriku duduk di dekat jendela ditemani segelas coklat panas. Tunggulah aku, ucapmu sebelum pergi. Selalu aku menjadi pihak yang menunggu. Hingga terkadang aku tidak tahu rasanya bagaimana bila aku tidak menunggu. Aku benci namun entah mengapa terkadang aku menyukai masa menungguku. Apalah artinya menunggu satu jam, dua jam, tiga jam, hingga aku tidak tahan lagi. Ya, detik demi detik telah berlalu. Ku lihat jam di tanganku yang telah berhenti berdetak.

“ Ada yang bisa saya bantu lagi?” tanya seorang waiterss menghampiriku.
Aku tersenyum sambil membereskan barangku , bangkit berdiri dan berjalan keluar pintu. Aku menarik nafas dalam-dalam. Rasanya aku ingin menangis, namun aku melarang diriku. Aku keluarkan bungkus rokokku. Mengambil sebatang rokok dan menghisapnya. Dulu, aku orang yang membenci rokok, entah mengapa aku lelah menjadi seorang yang kontra. Aku belajar merokok sendiri.
****

Hidup itu keras. Saking beratnya seringkali perjalanan ini seakan tidak ada logikanya. Semua kebohongan dijadikan trik untuk kebaikan. Minus seakan menjadi nilai plus. Sungguh membosankan. Setiap berjalan, harus menggali mood untuk merasakan kebahagiaan. Setiap bahagia, harus dilubung ketakutan. Menyedihkan.
Aku berjalan menyusuri malam. Melalui waktu, melalui perjalanan yang pernah kutempuh bersamanya. Berhenti di setiap tempat dimana kau menyuruh aku menunggu. Aku lelah menunggu. Namun, entah mengapa aku selalu merasa aku harus menunggu.
****
Diam. Aku hanya bisa berhenti sejenak. Menatapnya dari kejauhan. Berharap dia tidak melihatku. Aku hanya berdiri seperti patung, saat dia mendekatiku. Memberikan kecupan manis di pipiku, tersenyum dan berkata, “ Maafkan aku, mengapa kau pergi? Aku mencarimu kemana-mana.”
Aku hanya bisa terdiam ketika melihatnya. Apa yang harus aku lakukan? Aku lelah menunggumu yang kian datang dan pergi. Terkadang aku ingin melewatkanmu, namun ketakutan selalu merumbungiku bagaikan aku adalah lalat.
Aku benci tatapan itu. Aku benci dia. Aku dorong tubuhnya, menjauhi pelukannya. Aku berlari meninggalkannya. “ TAKSI!” teriakku di pinggir jalan.

*****
Selalu aku harus berlari. Aku merindukan hari bersamanya. Aku selalu membayangkan senyumannya. Mengapa aku terlalu takut untuk jujur pada diriku sendiri? Aku berhenti di sebuah café malam. Memesan bir , mengambil kembali sebatang rokok. Ku hisap, ku rasakan kenikmatannya, ku teguk segelas bir. Diam. Ingin rasanya menangis.

Seorang pria menghampiriku. Dia menatapku dan menggodaku. Aku bangkit berdiri, mengambil selembar 100rb dari dalam dompetku. Berjalan keluar dari café itu. Aku melihat segerombolan pria dan wanita masuk ke dalam. Ku lihat mobil yang berlalu lalang.

Inilah hidupku. Sekuat aku memaksa untuk menjadi tetap menjadi seorang gadis lugu, aku hanya seperti mendorong tembok di depanku yang jelas takkan bisa pernah aku dorong. Menyedihkan? Tidak!

*****
Sudah puluhan kali aku melihat BBku. Dia terus menghubungiku, mengirimkan aku pesan. Setiap kali aku lari darinya dia selalu mencariku. Saat aku menunggunya, dia meninggalkan aku. Aku muak! Aku matikan BBku, mengambil sebatang rokok dan kuhisap lagi. Sudah tiga batang hari ini. Biasanya, aku hanya menghisap satu per hari. Aku diam sejenak, ku sadari hidupku terasa hampa.

Air mata tidak bisa terbendung lagi. Aku berjalan menyusuri malam, menangis. Aku lihat bayang diriku di bawah sinar rembulan, berantakan.

*****
Selalu dia ada di saat aku menangis. Dia berjalan menghampiriku. Pria yang sama, yang membuat aku jatuh cinta sekaligus takut terluka. Pria yang membuat aku selalu menunggu sepanjang perjalananku. Dia memelukku dan hanya diam. Tanpa berkata.

Selalu dia membisikkan maaf. Dan semua kembali sama.

 

 

sebuah cerita fiksi

Comments are closed.

What’s this?

You are currently reading Selalu at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: