Tiga Kebohongan

13 March 2012 § Leave a comment

Bukan kesedihan yang aku minta dalam cerita ini. Namun, air mata tak kunjung berhenti mengalir dari sumbernya. Membutakan mataku melihat rintikan hujan yang turun dari langit.

Di sampingku , sebuah jendela berjalan mengikuti irama gerak bus yang aku naiki. Di sinilah tempat aku bercumbu bersama langit. Dalam khayalku, hanya ada aku dan kamu.

Aku tak berhenti menatapmu, dan kamu tidak berhenti menatapku. Kita berjalan bersama, meski kamu terlihat diam. Kamu bilang aku wanita yang kuat dan yang kamu lihat adalah air mataku. Itu kebohonganmu yang pertama.

Aku lontarkan berpuluh kali pertanyaan yang saman dan kamu hanya diam. Menatapku seakan aku bisa tanpa cintamu yang merasuk dalam hatiku. Itu kebohonganmu yang kedua.

Aku menatap wajahmu, melihat senyummu, dan tanganmu menggandengku, seakan kamu tahu bahwa tanganku takkan meninggalkanmu. Itu kebohonganmu yang ketiga.

Bagiku, tiga kebohongan sudah cukup. Di saat bus berhenti, aku tidak berteriak, aku hanya tersenyum. Melepas tanganmu, menjauhi matamu, dan berjalan meninggalkanmu dengan jejak pasti. Mendorongmu untuk tetap berada di dalam bus yang siap melaju.

Biarkan aku tanpamu, karena di perhentian ini aku menemukan kejujuran yang bukan dari kamu. Selamat tinggal masa laluku. Terima kasih langit, kau menyadarkanku.

sebuah fiksimini

Tagged:

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tiga Kebohongan at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: