Seberapa Besar Rinduku?

22 March 2012 § Leave a comment

” Aku akan ada disana,” ujarmu menunjuk langit di atas tempat kita tidur.


Pagi Mas! Apa kabarmu disana? Sudah berapa lama kita tidak berjumpa? Ah, aku sudah malas menghitungnya. Setiap aku buka mataku, menatap langit tempat tidurku, aku hanya diam. Air mataku sudah mengering, Mas!

Yang aku ingat, adalah senyum manismu. ” Em, janganlah pasang muka seperti itu! Nanti tidak ada yang naksir kamu loh!” katamu menghiburku. ” Kan aku sudah ada kamu!” godaku melirik matamu. Kau tersenyum lalu mengelus kepalaku.

Mas, aku tidak pernah berani melakukan ini. Mungkin ini topeng terberat yang pernah aku pakai. Dulu, sebelum kamu, aku selalu siap untuk kehilangan. Dan sekarang, aku tidak lagi sesiap dulu. Kamu tahu mengapa Mas? Karena kamu adalah Dimas. Orang yang tidak menganggap aku seperti anak kecil. Awalnya aku kira kau sama seperti mereka, namun kau tunjukkan bahwa kau beda.

” Em, kalau nanti aku pergi, kamu bagaimana?” tanyamu dengan wajah khawatir.

” Mas, aku tidak apa-apa. Karena aku ingin mendukungmu,” jawabku tersenyum.

” Em, kalau kita tidak bisa tidur bersama menatap bintang disana seperti ini, bagaimana? ” tanyamu lagi. 

” Mas, kamu kenapa jadi banyak bertanya? Kalau kita sama-sama tidur menatap langit disaat bersamaan, bukankah akan terasa seperti bersama?”

Ya Em, benar. Akan beda rasanya, bila tidak memelukmu.”
Kau ingat malam sebelum kepergianmu? Karena aku tidak pernah bisa melupakannya. Malam adalah sahabat kita, langit adalah film kita dan pelukan adalah cerita kita. Saat melakukannya bersamamu, benar bagaikan kenyataan yang menjadi mimpi. Mas, apa kabar langit disana? Tujuh belas bulan kita bergandengan tangan bersama, dan sudah dua bulan kita bergandengan tangan berjauhan.


Dimas, aku merindukanmu. Setiap aku memencet nomor teleponmu, aku hanya menangis. Apakah seharusnya kita tidak perlu menatap langit terlalu lama? karena sekarang kau tidak lagi  pergi di bawah langit. Siapa yang akan menghapus air mataku lagi, Mas?

****

” Em.. Em.. Em…”

” Dimas.. ”

” Em… Tenanglah.. “

” Bagaimana aku bisa tenang Mas?”

” Aku tidak jauh darimu.”

Tapi kau sudah tidak nyata lagi!”

” Em.. terimalah dia.”

” Dia bukan kamu, Mas!”

” …..”

Seberapa aku merindukanmu? Sangat besar rinduku, Mas.. Waktu tak bisa kembali, seperti dirimu yang takkan kembali lagi. Mas, janjimu hanya beberapa bulan kau disana, namun, mengapa kau jadi pergi selamanya? Mas, kamu lihat aku di langit sana? Karena aku melihatmu dari sini. Mas, aku harus bagaimana? Mas, aku tidak bisa lagi dengar suaramu. Mas, apakah aku harus memilih dia? Mas, Mas, Mas.. Sebesar apapun tangisanmu, kau ada disana. Sebesar apapun teriakanku, kau tidak akan kembali. Mas, rinduku sangat besar…

Tagged:

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Seberapa Besar Rinduku? at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: