Ajeng

3 April 2012 § Leave a comment

Rumah itu tua. Dindingnya berwarna putih kusam. Halaman rumah menghijau bersama rumput yang kian tumbuh tanpa pernah di pangkas. Di tutupi dengan pagar merah yang mulai karatan.

Apalah arti sebuah rumah? Buat mereka mungkin sudah tidaklah penting. Tidak untukku, karena rumah itu peninggalan terakhir kakek dan nenek buyutku. Aku memandang rumah yang mulai termakan waktu dengan penuh kagum. Menatap setiap lekuk bentuk rumah itu, lalu aku pegang pintu pagar, berdiam sejenak dan memejamkan mata.

*****
” Ajeng, jangan buka pintunya!” kata nenek sambil menarik aku masuk.
” Aku mau keluar nek! Mau cari ayah!” rengekku padanya.
” Ajeng, sebentar lagi ayah pulang. Ayo masuk!” bujuk nenek.
” Nek, ayah pasti pulangkan?”
” Ya, dia pasti pulang.”

*****

Aku buka mataku, memandang jendela kecil rumah itu. Hari yang tidak bisa aku lupakan, saat nenek mengucapkan janji kepulangan Ayah ke rumah. Tidak berhentinya aku menatap pagar merah ini. Besi yang membatasi aku dengan jalanan menuju bayangan tentang dunia Ayah.

” Nek, Ayah kemana?” tanyaku menarik tangan nenek yang sedang merajut.
Nenek menatap mata kecilku, lalu berkata, ” dia sedang kerja di luar sana.”
” Kerja apa nek? Ajeng boleh menyusul ayah?”

Setiap pertanyaan itu terlontar dari bibirku, reaksi nenek selalu diam, dan saat kakek mendengar, pertengkaranpun mereka tidak terhindarkan. Seakan aku kecil dibodohi mereka dengan kebohongan mereka. Nenek tidak setuju dengan pendapat kakek untuk memberitahukan kenyataan tentang meninggalnya ayah di medan perang. Menurutnya, aku masih terlalu kecil untuk tahu.

Aku tepiskan kenangan itu, lalu membuka pintu pagar , berjalan melalui rumput yang tumbuh dan terlihat tidak pernah di potong sejak lama. Aku mulai memandang sekeliling halaman rumah.

******
3jam sebelum Ayah berangkat.
” Ajeng, nanti kalau sudah besar harus jadi wanita yang berguna ya. Meski ibu sudah tidak ada, Ajeng masih punya nenek. Belajarlah dari nenek ya!” bisik ayah saat memeluk aku.

Tepat disini, hari terakhir kita bertemu Ayah. Pelukan dan bisikanmu masih terdengar di telingaku. 33 tahun berlalu begitu cepat.

Aku berjalan dan berhenti di depan pintu rumah itu. Pintunya berwarna coklat tua, hampir mirip dengan warna batang pohon.

*****

Tok.. tok.. tok…

“ NENEK….. Ayah pulang.. Ayah pulang!! “ teriakku girang mendengar suara ketukan pintu.

Nenek berjalan menghampiriku, mendahului aku menuju pintu. Aku berdiri tak jauh di belakangnya, menunggu dia membuka pintu.

“ Selamat Sore!”

Bukan Ayah , mereka adalah dua orang pria berseragam lengkap. Nenek keluar dan menutup pintu. Aku bergegas menuju jendela di sampingnya. Aku melihat mereka bercakap. Raut muka nenek seketika berubah.

“ Siapa Ajeng?” tanya kakek menghampiriku dari belakang, mengikuti aku mengintip , lalu berjalan ke pintu dan memeluk nenek.

Aku hanya diam. Berusaha tidak ingin mengerti arti percakapan mereka.

*****

” Ajeng,” panggil Mas Dewo, suamiku. Aku membalikkan tubuhku dan tersenyum padanya.

” Nenek dan kakek jahat!!” teriakku berlari menuju pagar rumah. Kakek mengejarku dan menarikku, lalu memeluk tubuh mungilku. Akupun menangis sekencang-kencangnya dan berteriak memanggil Ayah.


“Kamu tidak apa-apa? ” tanya Mas Dewo.  Aku memeluknya dan memejamkan mata. Kenangan itu terputar bagaikan film di memory otakku.

*****

” Kakek, Nenek, aku pergi ya..” pamitku di usia 20 tahun. Aku tatap raut wajah sedih nenek. Terlihat dia tidak rela membiarkan aku pergi meninggalkan rumahnya. Aku palingkan wajahku, menatap lurus pagar merah yang mengurungku saat aku kecil. 

Berjalan meninggalkan rumah tempat aku tumbuh besar bersama mereka adalah hal yang terberat dalam hidupku. Air mata mulai mengalir di pipiku. Tidak berani aku membalikkan tubuh melihat wajah mereka.

*****

” Seharusnya, aku tidak kesini mas.”

” Sudah waktunya, Ajeng. Kau mengingat mereka.”

” Mengapa mereka meninggalkan aku mas?”

” Karena tugas mereka sudah selesai, Ajeng.”

” Aku rindu cerita di rumah ini mas.”

” Ajeng, maaf, kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk rumah ini.”

Aku melepaskan pelukkan Mas Dewo, menatapnya.


Ajeng, Ayah sayang sama kamu,” peluk ayah sebelum pergi untuk selamanya 33 tahun lalu.

“Ajeng, jaga nenek untuk kakek ya. Maafkan kakek,” bisik kakek yang terbaring di atas ranjang 13 tahun lalu.

” Ajeng, nenek sudah dijemput kakek. Nenek sampaikan sayangmu padanya dan ayahmu, nenek bangga sama kamu,” ujar nenek yang duduk diatas kursi goyang kesayangannya 3 bulan lalu.


Rumah putih, berpagar merah, termakan waktu beriring dengan kepergian mereka. Meninggalkan sayang untuk Ajeng di masa yang membuat dia merdeka dari perang di kotanya, dan perang di jiwanya.


Tagged:

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Ajeng at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: