Tanpa Judul

10 April 2012 § Leave a comment

Setipis benang, katanya. Aku bisa melihatnya dalam perjalananku. Lihatlah langit bila kau tersesat,lanjutnya. Ia akan menunjukkan arah , dan kakiku akan melangkah menurutnya. Dibekalinya aku dengan topeng. Penutup wajah dari segala yang terlihat. Nasehatnya berlanjut, katanya, bila melihat seorang tanpa topeng, jauhilah mereka karena dengan mudah kau akan diterkamnya.

******

Aku membuka pintu, diikuti dirinya. Sebelum kakiku melangkah, dia bilang, “sudah saatnya aku berjalan.”
“Untuk apa? ” tanyaku padanya dengan sejuta rasa penasaran.
” Jalanlah saja dulu, nanti kau akan tahu!” jawabnya sambil mendorongku keluar dari pintu dan dibantingnya keras-keras hingga pintu itu tertutup.

Beruntunglah aku, terang, langit sedang bersahabat pada bumi ku berpijak. Aku tatap sekelilingku. Terlihat aku berada di tengah jalan raya. Tempat mobil berlalu lalang dan beberapa pedagang menjual makanan di pinggir jalan itu. Aku lihat beberapa pria duduk di atas motor, di pinggir jembatan penyebrangan.

Katanya, inilah ibukota. Kota sejuta pertunjukkan. Kalau kau tersenyum, bisa-bisa kau dikira penipu. Kalau kau bicara, kau tidak pernah dianggap benar. Karena jujur itu harganya mahal.

Panas menusuk kulitku. Aku berjalan melalui beberapa pedagang, menyebrang melewati jembatan. Kiriku terlihat para pejalan kaki,mengalunkannya senada lurus. Sedang di kananku, sekelompok pedagang menjajahkan dagangannya, berteriak mengajak untuk membeli barangnya.

Ku ikuti irama kakiku, hingga sampailah aku di sebrang. Aku turuni jembatan penyebrangan ini. Dan berhenti. Aku tatap kedua arah jalan yang ada di sampingku. Yang kulihat, dua arah yang samar terlihat sama. Entah hati bicara apa pada kakiku, aku merasakan ia melanjutkan iramanya dengan melangkah ke arah kanan. Apa yang kulihat? Pemandang yang sama seperti di ujung sebrang sana. Tidak banyak berbeda.

Waktu terus bergulir. Terik matahari semakin terasa. Aku berhenti. Aku meliha sebuah pintu yang menarik perhatianku. Besar, berwarna merah. Pintu itu berada di sebuah bangunan besar dan tua yang terdiri dari beberapa jendela yang memanjang ke atas, dengan hiasan kaca berukiran keramik bergambar abstrak. Tanpa rasa ragu, aku buka pintu itu.

*****

Berhenti. Sekelilingku seakan tak bergerak. Aku diam. Hanya detak jarum jam yang berbunyi. Tidak terdengar bunyi sendok menari diatas piring atau desahan air mengalir ke tenggorokan. Seperti sebuah film yang di pause beberapa saat.

Tidak lama, tombol play seakan ditekan. Mereka mulai bergerak. Seorang pelayan menghampiriku, mengajakku duduk di sebuah meja, dekat jendela yang terukir dari keramik, seperti yang ku lihat dari luar.

Apa arti waktu yang terhenti sejenak? Aku tatap sekitarku kembali. Mereka bertopeng. Dengan topeng emas dan perak, yang terlihat cantik dan tampan bahkan ku lihat topeng sedih dan bahagia. Nampak jelas nyata, seperti kejujuran terpancar di setiap topeng-topeng itu.

Aku tidak mengenal nama mereka. Aku hanya melihat. Lamunanku dibuyarkan sejenak, sang pelayan memberikan aku sebuah buku berisi menu. Aku tersenyum padanya. Aku baca sekilas apa yang ditawarkan di restoran ini.

” Yang istimewa?” tanyaku bagai orang kaya.
” Nasi goreng kepiting dengan keju ditaburi diatasnya?” jawab pelayan itu meyakinkanku.
” Baiklah, aku pesan satu,” balasku menatapnya dan tersenyum.
” Sedang menunggu seseorang?” lanjutnya membalas senyumku. Aku mengangguk.

******

Sekitar 30 menit berlalu. Apa yang aku lihat di restoran ini? Banyak. Seperti aku sedang menjaring ikan di tengah laut. Aku lihat tangan menyelipkan selembar uang kepada pelayan yang menjaga pintu masuk untuk mendapatkan tempat duduk istimewa. Aku lihat percakapan dua wajah yang bersedih dan menghibur. Aku lihat para pelayan lalu lalang mengantar pesanan para pengunjung. Aku lihat berbagai topeng.

Mengapa aku yakin itu adalah topeng? Ku pegang wajahku. Aku tolehkan wajahku, menatap jendela berkeramik. Aku lihat wajahku di antara warna keramik, nyata.

Terdengar berbagai percakapan bagaikan gemuruh saat langit menggelap. Ada tangis, ada marah, ada bahagia, ada bingung, ada sendu, ada…. Semua rasa terdengar nyata.

Aku sentuh cermin di depanku. Tanganku menembus. Tidak lama aku rasakan seseorang menarikku masuk.

*****

Pandanganku berubah seketika. Ada apa hari ini? Aku mencoba mengingat awal mula perjalananku. Aku lihat tangan kiriku memegang sebuah topeng. Lalu, tangan kananku menyentuh wajahku. Sama.

Kosong. Hampa. Aku lihat tumpukkan emas di ujung, tepat lurus mataku memandang. Aku lihat orang-orang mengantri. Membuka topengnya masing-masing. Berharap mendapatkan satu emas. Namun, terlihat tidak mudah bagi yang tak membawa topeng. Yang mengenggam topeng? Seakan berebut tanpa peduli apakah emas itu menyikut atau tidak.

Gemuruh terdengar semakin kencang. Lama, beraturan, seakan ratusan manusia berteriak di waktu yang sama.

Aku terus berjalan. Pandangku mulai mengabur. Tidak lagi berwarna. Aku terjatuh. Sekelilingku menatapku. Semua topeng memandangku. Aku meraba lantaiku, mencari topeng menutup kepalaku. Apa daya, seperti neraka menarikku masuk, aku tak tahan, mataku terpejam.

*****

Hening. Kosong. Hening. Belum berakhir. Tanpa judul, aku bukan cerita. Meski harus ada kebohongan, cerita akan tetap menjadi karangan. Membiarkan semua topeng membaca. Yang tidak bertopeng? Dianggapnya sakit jiwa.

Tagged:

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tanpa Judul at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: