Mata Hari

16 April 2012 § Leave a comment

Aku di sini. Dengan pertanyaan tidak kunjung usai, hingga langit menggelap dan hari terlihat berhenti.


tik..tik…tik… tik…

” Laras, ayo makan dulu! Dari tadi mama perhatikan kamu cuman dengerin jam tangan kamu mulu. Istirahat dulu. Nanti baru kerja lagi. Ini mama taruh makanannya di sini ya,” bisik mama sambil meletakkan nampan berisi sepiring nasi dengan telur dan ayam goreng.

Aku bangun dan menantap mama, tersenyum tipis. Mama mengelus rambutku yang mulai menipis. Dia tersenyum, lalu mencium keningku. Sebelum berjalan menuju pintu kamarku, ia melihat setiap sudut yang ada di kamarku. Aku lihat matanya, aku lihat senyum kepasrahan darinya. Tanpa sepatah kata lagi, ia hendak berlalu meninggalkan aku sendiri yang tidak lagi bicara padanya.

******

” Langitnya indah. Aku lihat mata hari Minggu disana. Matahari yang menyinari rerumputan,” ujarku padanya.

” Ya,indah sekali,” balasnya lembut sambil memegang tanganku.

Apakah aku pernah memimpikan hari ini? Ya, pernah. Tempat yang jauh dari tempat kelahiranku. Bersama seorang kekasih yang mencintaiku. Berbaring di hamparan rerumputan , di sinari terangnya matahari. Bagaikan berada di dalam negeri bernama dongeng yang menjadi kisah nyata.

” Ayo, kita pulang. Lihat, matahari sudah mulai meninggalkan hari kita,” ajaknya sambil mengulurkan tangan padaku.

Aku tersenyum, lalu meraih tangannya dan bangkit berdiri.

” Laras, istriku yang cantik, aku mencintaimu!” bisiknya ditelingaku lalu mencium pipiku.

” You so lame, but i love you too,” balasku mengecup bibirnya. Dia melepaskan tanganku, mengantarkan aku hingga aku naik ke sepedaku , kemudian dia mengambil sepedanya, lalu kami mulai mengayuh. Berjalan melewati jalan kecil, di antara pepohonan yang rindang, kota kecil di sudut utara Inggris, kota yang tenang di antara keramaian.

Hari berlalu, ya, tidak ada yang bisa menghentikan waktu, namun hari bisa berhenti bila ia menginginkannya untuk berhenti. Bila tidak ada lagi matahari, kehidupan dikatakannya mati. 

tik…tik… tik.. tik…

” SAYANG….. Awas!!!!!” teriaknya.

Berhenti. Matahari menenggelamkan hari. Aku dengar teriakannya, aku lihat wajahnya, seketika dia di depanku, terhantam begitu keras, aku terjatuh. Aku dengar suara rem yang terinjak sekuat tenaga, aku rasakan mata yang mulai terpejam. Hening.

******

Tik…tik… tik… tik…

” Mama..” panggilku pelan.

” Ya…” jawabnya. Aku lihat wajahnya yang menatap lembut diriku. Aku diam. Aku lihat jendela di depan mejaku, tempat aku menghabiskan waktu, mendengar detak waktu yang terus berlalu.

” Kamu butuh  sesuatu sayang?” lanjutnya. Aku lihat matanya yang berkaca. Hari, ini bukan kali pertama aku melihatnya seperti ini. Aku tersenyum. Aku pandang matahari yang mulai tenggelam. Hari, aku harus bagaimana setelah kau pergi?

*****

” Maaf, kami tidak bisa apa-apa lagi,” ujar dokter kepada mama.

Rumah sakit di kota itu tidak semewah yang aku bayangkan. Berbeda dengan  tempat aku dilahirkan kedunia ini. Waktu seakan terasa berhenti disana. Inilah pertama kalinya aku merasakan keberadaan setiap ruang di rumah tempat orang sakit berbaring.

tik..tik..tik..tik…

” Ia sudah kami ceritakan tentang keadaan isterinya. Ia selalu mengunjungi kamar isterinya. Membisikkan setiap kata. Lalu, dia menghampiriku. Katanya, kelak aku akan dijemput lebih dulu dari isterinya.  Dia ingin memberikan matanya,” lanjut dokter. “Ya, dari kondisinya, mata hari terbilang normal, tidak terluka sedikitpun. Namun, tidak ada yang bisa mengetahui, saat operasi berlangsung, kontraksi parah terjadi dalam tubuhnya. Entah ini adalah mujizat atau perkara…”

Suara percakapan mereka yang samar, mulai terhenti. Tidak ada kata lagi yang terdengar.

******
Ma..” panggilku lagi,” Sudah 500 hari berlalu, 43 jutaan detik aku dengar sudah berlalu. Hari, tidak kunjung datang menjemputku. Ma, aku lihat setiap detiknya, mata hari membawaku pada senyumnya. Ma, Hari disana bagaimana  ya?”

Mendengar aku bicara, mama hanya diam. Tik.. tik.. tik… tik….

Aku tatap wajah mama dengan mata dari Hari. Lalu, aku berdiri menghampirinya. Aku peluk tubuh mama, lalu berbisik, ” Ma, Hari terlihat tampan. Wajahnya makin bersinar. Aku bisa melihatnya sekarang. Hari disana bahagia. Katanya, mama adalah ibu yang paling dicintainya. Dan kelak, aku harus jadi ibu sebaik mama untuk anak-anakku. Ma, apakah aku bisa mencintai pria selain Hari, anakmu?”

Detik terus berputar. Hari tidak lagi sama. Matahari tetap terbit dari sisinya. Tangan hari tidak lagi mengenggam tanganku atau tangan mama.

Hari kau benar, mamamu sangat sayang padaku. Mamamu, selalu berbisik padaku, ” Hari sayang padamu, Laras. Hari selalu memperhatikanmu dan menjagamu. Katanya, kamu sangat cantik saat kamu memperlihatkan kehidupan ini padanya.” 

” Ma…”

” Laras, terima kasih. Kamu mau hidup kembali. Terima kasih Laras. Mama tahu. Karena mama lihat matamu dan mata hari terlihat indah di wajahmu. Laras, lukisanmu cantik,” katanya melepas pelukkanku, menghapus air mataku. Lalu, aku menatap setiap sudut ruangku, yang penuh dengan lukisan dirimu, matamu, dan matahari yang selalu aku tatap lembut dari sudut meja ini.

Matahariku sama dengan mataharimu. Di sudut yang sama dia menatap dunia yang berbeda waktu.

Namun, waktukku tidak lagi berbeda dengan waktumu.

Sayang, ini perpisahan kita kedua kalinya. Tidak perlu kau menunggu di sudut mataharimu, karena mataku sudah melihat hari bersama tubuhmu.

Tagged:

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mata Hari at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: