Manis

29 April 2012 § Leave a comment

Angkasa, ukirkan cintaku pada langit yang merindukan rembulan, di bawahnya, sang putri menanti alunan nada berputar. 

Cafe ini bergaya sederhana. Interiornya vintage. Aku suka tempat ini. Aku duduk di meja tepat di samping jendela. Aku hirup coklat hangat yang menemaniku menunggu. Di sampingku sekelompok wanita sedang bergosip. Di depanku sepasang kekasih berbagi kisah.

” Mbak, ini untuk mbak,” ujar seorang waiters membuyarkan lamunanku sambil memberikanku sepiring kue coklat.
” Ah, terima kasih. Dari siapa?” balasku.
” Seseorang mbak,” balasnya.
” Terima kasih.”

Aku tatap kanan kiriku. Lalu, mulai mencicipi kue coklat di depanku.

” Menikahlah denganku,” bisiknya ditelingaku.
Aku palingkan wajahku, aku lihat pria berkemeja putih. Dia tersenyum, kemudian berlutut di depanku.

Aku lihat sebuah cicin bergemerlap di antara potongan kue. Aku balas senyumnya, dan mengangguk.

Manis, meski hanya khayalan.

Tagged:

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Manis at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: