Langit dan Bukit Cinta

14 May 2012 § Leave a comment

” Kau lihat? Langit merintikkan air mata bahkan di saat mentari menerangi dunia. Kau tahu mengapa?” tanyanya kepada Dion yang sedang menyetir sambil menatap langit.
” Biasanya, ini pertanda bahwa ada yang meninggal,” jawab Dion santai sambil menerobos kemacetan jalan.
” Langit tidak jahat, Dion,” balasnya. Ia memalingkan matanya melihat raut wajah kekasihnya yang sudah mulai lelah.
Sesekali Dion melirik ke arahnya, yang sudah hampir 5menit tidak mengalihkan pandangannya dari dirinya.
” Kamu kenapa? Ada yang salah dengan wajahku?” tanya Dion saat ia menghentikan mobil di perbatasan lampu merah.
Ia menggelengkan kepala, lalu tersenyum. Kemudian, di alihkan kembali pandangannya menatap langit.

” Langit tidak pernah berbohong. Meski ia sering memancarkan bayangan. Namun, hati sering beralibi, memanipulasi langit agar tidak menunjukkan bayang sebenarnya,” ucapnya pelan. Dion menatap lekat wajah kekasihnya, lalu menyentuh tangannya. Jantungnya berdetak cepat. Seakan rahasianya siap meledak di depan wajahnya.

Dalam diam, Dion melanjutkan laju mobilnya dengan tangan kanan tetap mengenggam tangan kekasihnya. Perjalanan mereka masih perlu menempuh beberapa jam lagi, hingga sampai di bukit cinta. Tempat dimana mereka akan menyatukan hati mereka.

*****

Wajahnya tidak berpaling dari langit, sejak ia membicarakan tentang bayangan langit. Selama itulah Dion tidak berhenti mencoba mencairkan keheningan di dalam mobil.

Mentari sudah berada tepat di atas mereka, menandakan sudah hampir tiga jam perjalanan mereka, dan sudah waktunya pula mereka perlu singgah mencari makan.

Dion menghentikan mobilnya di depan restoran Sunda. Merekapun turun, Dion menarik tangannya, sebagai kode untuk masuk ke dalam.

” Langit itu bias dari kata hati. Terkadang ia terlalu jujur pada jiwa yang diam,” ujarnya memecahkan keheningan, seusai Dion memesankan mereka sarapan.

” Sayang, sejak kita berangkat kau tidak berhenti membicarakan langit. Dan saat kau berhenti, malah kau diam. Sekarang katakan padaku, apa yang terjadi?” tanya Dion menahan diri untuk tidak menunjukkan rasa kesal pada kekasihnya.

” Setelah kita sampai Dion, kamu akan tahu,” jawabnya sambil tersenyum, seakan sedang menandakan wajah bahwa ia hanya ingin di dengar.

******

” Lalu kita ke arah mana sekarang?” tanya Dion kepadanya sesampai di lereng bukit Cinta.

” Langit bilang, kiri akan ada jalan terjal, jadi kita perlu hati-hati, terus ikuti saja jalannya, sebentar lagi kita akan sampai.”
Dion menjalankan mobilnya sesuai arahan darinya. Sesekali Dion melirik raut wajah kekasihnya, dalam hatinya, Dion tidak berhenti bertanya-tanya.

” Apakah langit sudah menjadi teman jalanmu?” tanya Dion penasaran dengan nada agak sedikit kesal.

Sekarang gantian, ia menyentuh tangan Dion, saat akhirnya mereka tiba. Mata Dion tidak berhenti memperhatikan sekelilingnya. Di lihatnya padang rumput hijau, dan ada sebuah pohon yang menarik perhatiannya, pohon itu berdiri sendiri di dekat ujung jurang. Daun-daunnya berwarna kuning kehijauan, membentuk payung bergambar hati.

Mereka keluar dari mobil. Berdiri tepat di bawah pohon itu. Ia menuntun Dion untuk tiduran di bawahnya. Tangannya mengenggam tangan Dion. Sesekali Dion melirik kekasihnya yang sejak sampai kembali diam. Dilihatnya matanya terpejam dan senyum tergores di wajahnya.

” Langit tidak pernah bohong,” ujurnya lagi tiba-tiba. Ingin sekali Dion melepaskan genggamannya, namun kekasihnya mengenggam sangat erat.

” Aku harus mengakui, bahwa sebenarnya. Dion, aku tidak tahu harus memulai darimana,” lanjutnya melepaskan tangan Dion dan duduk.

” Okay, sekarang, jadinya apa? Kita sudah berada di bukit cinta. Tempat yang kamu ingin sekali kunjungi. Kita sudah tepat di bawah langit. Sekarang….”

” Dion, kamu mencintai aku?” katanya menyela perkataan Dion. Di sentuhnya wajah kekasihnya itu, sambil mengecup lembut bibirnya.

” Langit, kami siap,” bisiknya dalam pelukkan Dion. Di tatapnya erat mata kekasihnya yang seakan memberi aba untuk menatap langit.

Seketika langit terbuka, cahaya menyoroti pohon itu dan mengaburkan pandangan Dion. Seketika itu juga ia terperangkap dalam pohon itu.

” Langit bilang, kau berdusta akan cintamu, karenanya kau harus menjalani hukuman di bukit cinta,” bisik kekasihnya pada pohon yang mengukir nama Dion.

*****

Tagged: ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Langit dan Bukit Cinta at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: