Jingga di Ujung Senja

14 June 2012 § Leave a comment

Palembang, 2000.

Senja yang indah ya sayang,” ujarku padanya.

Dia terlihat cantik bersama jingga. Dia kekasih hatiku. Oh Tuhan, dialah wanitaku.

” Kamu tahu? Matahari sedang tersenyum paling indah saat langit memancarkan keemasannya disana,” balasnya sambil tersenyum.

” Apa yang  ada dipikiran kamu?”

” Membayangkan kalau aku pergi kesana,” jawabnya sambil menatap lurus ke langit.

Aku tidak akan membiarkanmu.

*****


Palembang, 2010.

Sepuluh tahun berlalu. Tidak berhenti aku bertanya pada jingga, mengapa harus aku yang mencintai wanita itu? Hati pria sama rapuhnya dengan wanita bila akhirnya di khianati oleh langit.

Aku pejamkan mata dibawah senja. Aku bayangkan wajahnya, bagaikan malaikat. Ah, sudahlah. Cukup rasanya, menyimpan kenangan tentang dia.

Aku buka mataku. Aku tatap aliran sungai yang mengalir di bawah jembatan. Ini, tempat terakhir kau ungkapkan mimpimu. Ini, tempat dimana kau meraih mimpimu. Dan ini tempat, terakhir kita menjadi sepasang kekasih.

Sebelum akhirnya kau pergi menuju jinggamu.

” AHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH…………………..” teriakku pada langit tanpa mempedulikan sekitarku.

Dari kejauhan, aku lihat sosok bayang yang selalu mengikutiku. Ya, dia kekasihku dulu. Dan sekarang dia melepaskan aku. Bukan, bukan dia. Tapi aku.

” Pergilah. Pergilah sekarang. Aku tidak akan mengikutimu lagi.”

 

 

*fiksi ini ditulis dan di ikutsertakan dalam #15HariNgeblogFF2 , hari ke 3

Tagged:

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Jingga di Ujung Senja at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: