Sehangat Serabi Solo

17 June 2012 § Leave a comment

Kering. Satu kata yang ada di kepalaku saat ini. Di tengah keramaian pasar klewer, aku berjalan sambil memperhatikan dan menikmati riuk pikuknya.

” Satu bang, air kelapanya aja ya,” kataku sambil duduk.  Hari yang panas, membuat tenggorokanku terasa kering. Sudah 5 tahun aku berada di kota ini.  Memadu kasih dengan seorang pria, ya, dia suamiku. Cinta kita? Sedingin air kelapa yang akan menyegarkan tenggorokanku  di pagi yang panas dan sehangat serabi Solo di tengah malam yang dingin.

Kenangan itu sebesit kembali menghampiri kepalaku. Malam yang dingin, di genggaman tangan besar pria separuh baya menatap pernikahan anak tertua kami.

” sudah 30 tahun sayang, kita berjalan melalui waktu bersama.”

Ah, masih gagah, kau sayangku. Setia menemaniku, berjalan di tengah keramaian pagi. Setia merangkai mimpi bersama, di tengah hening malam. Aku tatap pria separuh baya itu yang sedang memasak serabi Solo. Ya, 5 tahun berlalu, ia memutuskan untuk meninggalkan Jakarta, anak-anak kami, untuk hidup bersama di hari tua, menjual makanan kesukaannya.
Dan aku, setia menemaninya memasak serabi Solo dipagi hari untuk dijual, dan menghangatkan tubuh di malam hari berdua dengannya. Ah, meski terasa kering, melihatnya menikmati pekerjaannya, membuatku tidak berhenti mencintainya.

fiksi ini diikutsertakan dalam #15HariNgeblogFF2 hari ke 6.

Tagged:

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sehangat Serabi Solo at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: