Sepanjang Jalan Braga

17 June 2012 § Leave a comment

” Rasa, ini kotaku. Bandung. Jalan ini bernama Braga. Lampu-lampu, gedung tua, dan malam. Lengkap.”

Menatapmu sepanjang malam adalah bagian dari bahagiaku. Entahlah, aku mungkin seorang pria yang aneh bagi banyak orang. Semua mengira aku bajingan, hanya karena aku terlalu baik pada banyak wanita. Entahlah, apa yang membuat aku bisa begitu dekat sama banyak wanita. Entahlah. Ah, terlalu banyak kata ‘entah’ dalam ketidaktahuanku di dunia ini.

Di atas motor vespa, yang aku parkir dipinggir jalan Braga, aku baringkan tubuhku. Sengaja aku menjaga keseimbangan hanya untuk menatap langit malam.

” Rasa, kau tahu kenapa ada banyak lampu di jalanan ini? Sederhana. Hanya agar dia tidak menjadi jalam gelap di antara gedung tua.”

Kau hadir, lalu kau pecahkan semua yang pernah mereka tuduhkan padaku, tentang aku mempermainkan banyak wanita. Ya, dengan kepolosanmu, kau percayakan cintamu bersemayam di hatiku. Tidak, bukan hatiku, namun dihatimu. Ah, aku tidak ingin ini berakhir menyedihkan.

” Rasa, hanya kesederhanaan cinta yang aku tawarkan. Ijinkan aku menjalani hari-hari bersamamu, sampai kita tua nanti. Ijinkan aku menceritakan pada anak-anak kita, bahwa dijalan inilah, aku melamarmu. Jadilah isteriku.”

Aku selalu ingat peristiwa itu. Adegan yang sengaja aku putar sepanjang hariku, bahkan ketika kita sudah mengucapkan janji pernikahan kita. Malam ini, aku hanya sedang merindukanmu.

” Rasa, mengapa kau pergi dari hatiku? Mengapa ceritaku menjadi pedih? Ah, aku akan berhenti bertanya. Mungkin ini karmaku, mempermainkan segala rasa sebelum Kau hadir di hatiku. Kau, wanita bernama Rasa, menawarkan cinta, mengaburkan karma.”


” Mas, mengapa kau masih terus ada disini. Padahal kau tahu, aku tidak sepolos yang kau kira. Aku hanya ingin perceraian. Mengapa kau terus tawarkan cinta pada Rasa? Mengapa?” ujar Rasa menghampiriku tiba-tiba, membuyarkan lamunanku.

” Rasa, karena cinta itu indah. Kau wanita malam, aku tahu. Namun, kau satu-satunya wanita dihatiku, yang mampu menumbuhkan rasa cinta itu. Rasa, aku ikhlas menerimanya.”

” Kau bodoh mas! Aku mencintaimu. Tapi kau terlalu bodoh! Pulanglah. Jangan ke jalan ini lagi. Aku tidak pernah bisa menjadi wanita pagi dan malam hanya untukmu seorang. Aku tidak bisa menawarkan akhir cerita bahagia bersamamu. Aku tidak bisa merangkai khayalmu menjadi nyata. Pulanglah!”

Sudah kesekian kali kau usir aku. Namun, bukan cinta yang kau usir.

” Rasa, ini terakhir kalinya. Aku merelakanmu, bersama khayalku.”

” Baiklah. Aku pergi.Terima kasih Rasa, kau goreskan pelajaran terindah dalam hidupku.” Aku nyalakan motor vespaku, lalu berjalan meninggalkan Rasa. Aku arahkan motorku, menuju pintu nyata, tanpa wanita bernama Rasa.

*****

Pagi membangunkanku, aku tatap wanita disampingku. Dia bukan Rasa, dia bernama Cinta, isteriku.

 

 

 

cerita fiksi ini ditulis dan diikutsertakan dalam #15HariNgeblogFF2 hari ke 5

Tagged:

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sepanjang Jalan Braga at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: