Lentera Jiwa

23 July 2012 § Leave a comment

Ini bukan kali pertama aku terus bertanya. Apa yang hendak aku lakukan? Bagaimana aku bisa melakukan apa yang aku suka? Apakah itu egois? Apakah aku bahagia dengan apa yang aku kerjakan sekarang? Apakah aku hanya jenuh saja? Bagaimana bila justru aku malah kehilangan? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku layak tetap hidup?

 

Ya, ini bukan satu pertanyaan, tapi terlalu banyak pertanyaan. Hingga air mata tidak mampu ku bendung lagi.

Ya, aku butuh uang. Ya, aku butuh bekerja. Lalu apa?

Ya, aku perlu kegiatan, terus?

Apakah itu cukup membuatku bahagia? Apa tujuan hidupku?

 

STOP! This is to much!

 

Dari aku kecil, mimpiku aku ingin jadi penulis. Aku ingin menulis banyak artikel. Aku ingin menjelajahi dunia dan menuangkanna dalam tulisan. Aku ingin membuat cerita dari khayalan malamku. Apakah ini?

 

Aku suka dengan pakaian. Aku suka dengan rok. Saat belanja, pertama yang aku cari adalah rok atau dress. Aku bermimpi suatu hari nanti aku ingin punya toko, aku ingin menjual baju yang tidak pasaran. Warna-warni, vintage, simple, dan manis. Ya, itulah gambaran tokoku kelak. Apakah ini?

 

Aku bercita-cita ingin ke luar negri. Tinggal disana, bertemu dengan banyak orang, bercerita kepada banyak orang, berbicara bukan dengan bahasaku. Aku ingin punya rumah kecil, tempat aku mencumbu semua mimpiku di sana. aku bisa melukis, bisa menulis, bisa menata sendiri rumahku. Apakah ini?

 

 

Aku tidak tahu. Semua berkata tentukan satu tujuan. Namun, aku tidak mau. Karena terlalu banyak. Ya sudah lakukan satu per satu. Aku sudah melakukan satu per satu itu. Lalu apa?

 

Ah, apakah aku hanya membuat alasan? bila ya, mengapa aku harus melakukan itu? apakah karena malas? bila ya, berarti bukan ketakutankah yang harus aku lawan?

 

Karena, saat aku hendak melakukannya, aku selalu merasa kosong. Mungkinkah karena aku tidak ingin melakukannya sendiri? Ketika aku menulis, aku ingin ada yang menilai. Ketika aku melukis, aku ingin mereka menilai. Mungkinkah?

 

Oh Tuhan, ya aku ingin menikah. Kelak, aku ingin menikah dengan pria yang punya mimpi dan mendukung mimpiku, karena aku ingin menikahi setiap mimpi yang ada dalam gandengan tangan kami. Hanya itu saja Tuhan. Bolehkah? karena sesungguhnya, aku tidak bisa menjalani sendirian. karena terasa sangat hampa.

Tagged: , , , ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Lentera Jiwa at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: