Pukul 2 Dini Hari

14 January 2013 § 1 Comment

31-jam 2Bisikan hati itu biasa singkat. Sama seperti saat mengucapkannya. Mati. Bangun.  Jangan! Ya, satu kata memiliki banyak arti dan akhirnya menjadi sebuah kata perintah. Kata yang bermakna seperti pedang hingga menusuk ke dalam pembuluh darah. Tak perlu heran, di tempat ini seakan tidak ada persembunyian yang aman untukmu. Semua seperti jebakan yang siap menusukmu sampai nafas terakhir.

Ah, mungkin tidak se dramatis itu. Hari itu saat waktu bebas, berbarislah anak-anak baru yang baru bergabung. Di situlah, aku melihat dia. Badannya kurus, rambutnya hitam panjang sepundak, dia memakai kacamata, seperti kutu buku. Namun, ada aura yang berbeda darinya. Dia menarik perhatian semua penghuni tempat ini. Katanya, dia masuk tempat ini karena di usir, ada lagi yang mengatakan karena ia mencuri, terakhir yang aku dengar sebelum kedatangan dia, katanya ia mengakui perbuatan yang tidak dilakukannya.

*****

Sebelum malam tiba, semua anak-anak baru dibawa ke dalam sebuah ruangan besar. Mereka disuruh mandi terlebih dahulu sebelum beranjak tidur. Mataku, kembali tertuju pada wanita berkacamata itu.

Ia tidur di seberang ruang kamarku. Bagaimana bentuknya? Hanya terlapisi jeruji besi, layaknya sebuah penjara dimana kita bisa saling melihat satu sama lain dari ruangan. Aku lihat dia dari ranjang kecilku. Ia merapikan ranjanganya dengan tangannya. Lalu duduk, menundukkan kepala. Kemudian, ia menatap ke arahku, dan buru-buru aku langsung mengalihkan pandangku darinya. Ah, aku cukup takut menatapnya. Seakan dibalik wajah malaikatnya, ada iblis yang bersembunyi.

Keesokan harinya, tiba-tiba ia menghampiri mejaku saat aku sedang makan. “ Boleh duduk disini?” tanyanya sambil tersenyum. Aku pandang wajahnya, ini kala pertama aku melihat matanya. Bola matanya memiliki warna yang berbeda. Aku membalasnya senyum, lalu buru-buru membereskan nampanku dan bergegas berdiri. Tapi, tanganku ditahan oleh tangannya dan ia berbisik, “duduklah, aku tidak akan memakanmu!”

Aku tatap wajahnya dan kembali duduk. Dalam waktu yang singkat, tanpa ada perkenalan apapun, ia menceritakan alasan mengapa ia sampai disini dan kisah lainnya. Kata-katanya keluar begitu cepat seperti, muntahan.  Yang aku ingat, hanyalah kata-kata terakhirnya, “ Hati-hatilah! Jangan ceritakan pada siapapun!”

*****

Berbagai pikiran mulai berkecamuk didalam benakku. Apakah ia orang jahat? Ataukah sebenarnya ceritanya benar bahwa ia tidak bersalah? Lalu mengapa akhirnya dia bisa sampai disini? Bukankah seharusnya ia membela diri? Ah, banyak yang tidak aku mengerti.

Aku tatap langit yang mulai menggelap dari ranjangku, aku bangkit dari tidurku, berjalan menuju jeruji didekatku, dan melihat jam mulai menunjukkan pukul 1 dini hari. Aku mengintip sejenak kearah seberang ruangku,setelah tidak menemukan apapun, aku kembali ke ranjang.

Aku pejamkan mataku, berusaha menghilangkan pikiranku tentangnya. Rasa takut mulai menyelimuti kembali tubuhku dalam gelap. Apakah ia malaikat? Apakah ia akan menolongku? Tak lama kemudian, aku dengar lonceng yang berbunyi sejam sekali, menandakan sudah satu jam aku terjaga. Saat itulah, aku merasakan ada sosok seorang yang mendekati aku.

Ingin rasanya aku membuka mataku, namun aku tak bisa. Seakan ada  yang menekan kepalaku agar aku tidak membukanya. “ Ssst…. Diamlah! Dia datang!” bisik seorang wanita di telingaku. Apakah ia petugas? Darimana dia masuk?

Suara geledek menggelegar hebat di langit. Aku dengar rintikan hujan mulai turun membasahi.  “ Pukul 2 pagi, ia akan datang!” sekelibat aku teringat sepotong ceritanya. Apa arti ini semua?

“ Bukalah matamu!” lanjutnya. “ Ia sedang kelaparan mencari mangsanya. Sekarang, kamu aman! Aku tahu, dia sedang mengincar tubuhmu! Ingatlah ini, ketika ia kembali, ucapkan kata-kata dikertas ini! Jadi kamu bisa kembali dan tidak diambil olehnya!” katanya sambil menyerahkan kertas itu padaku. Kemudian, ia menghilang tanpa memberikan kesempatan padaku untuk bertanya apa maksudnya.

Aku bangun dari tidurku dengan nafas tersendak-sendak. Apakah ini mimpi? Aku lihat ke arah luar jendela, langit masih gelap, dan hujan turun sangat deras. Aku tatap ruangnya, ia tertidur dengan lelap. Aku tarik nafas dalam-dalam, lalu melihat secarik kertas yang tiba-tiba ada digenggaman tanganku. Kosong! Apa maksud dari semua ini?

****

Keesokan harinya, ia datang lagi ke meja makanku dan berbisik, “ Bersiaplah! Dia akan datang. Jangan buka matamu!” Segera aku tarik tangannya sebelum ia beranjak pergi.

“ Apa maksudmu? Aku tidak mengerti! Aneh sekali! Jangan ganggu aku!” balasku menatapnya mengharapkan jawaban.

“ Hei, tenanglah! Aku tidak akan menyakitimu! Aku justru sedang melindungimu!” katanya sambil menarik aku dari belakang. “ Lihatlah aku! Percayalah, kamu akan baik-baik saja!”

“ Aneh! Jangan takut-takuti aku! Kamu itu baru masuk! Tahu apa kamu tentang tempat ini!” balasku dengan nada yang meninggi dan melepaskan jeratan tangannya.

****

Sebelum waktu tidur tiba, aku dengar ia sudah pergi dari rumah ini. Katanya, ia dipindahkan ke tempat lain dengan alasan yang tidak jelas. Ada gosip yang mengatakan  bahwa ia dipindahkan karena alasan kemampuan mistik miliknya yang merugikan para penghuni, ada juga yang mengatakan ia dikenai hukuman mati. Entahlah, kabar bergulir begitu saja.

Masih tersimpan di ingatanku rentetan kata aneh darinya.Hingga malam itu tiba, saat aku tidur, lonceng kembali berbunyi.

…. sebanyak dua kali . Janganlah bangun!” tiba-tiba kata itu berbisik kembali ditelingaku. Aku dengar bising di atas langit sana. Ketakutan seakan hendak menguburku perlahan-lahan. Aku berusaha sekuat tenaga membuka mataku, namun tetap tidak bisa.

Setitik cahaya menerangi mataku, membuatku semakin ingin membuka mata, lalu aku ingat bisikannya, “ .. kertas ini! “ Aku meraba mengambil secarik kertas dari dia di kantongku, kemudian membungkukan badanku, membuka pelan sedikit kelopak mataku, hingga aku bisa membaca kertas yang tadinya kosong itu tertulis, “tenanglah!”

Aku ikuti kata-kata wanita itu dan mengucapkan perlahan-lahan dalam hati secara berulang kali. Langit mengelap, dan rasa takut yang menyelimuti, berubah menjadi hangat seketika.

****

“ Ra.. Ra… bangun! Ra…” bisik seorang wanita. Aku buka mataku perlahan-lahan, putih. Apakah aku sudah mati?

“ Ra, akhirnya kamu sudah bangun. Akhirnya! Cepat panggil dokter!” teriaknya pada laki-laki disampingnya. Aku lihat sosok wajahnya. Ia adalah ibuku, ia menatap aku hangat, seperti tatapan wanita itu.

“ Ra…” panggilnya sampai memeluk tubuhku. “Ibu, pukul berapa sekarang?” balasku lemas.

“ Pukul 2 pagi, sayang!”

 

sumber gambar : http://ipll.manoa.hawaii.edu/ind/tiw/lessons/L01/05.htm

Tagged:

§ One Response to Pukul 2 Dini Hari

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pukul 2 Dini Hari at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: