Menanti Lamaran

25 January 2013 § Leave a comment

Apakah kamu lupa? Ah, bagaimana mungkin kamu lupa. Kamu yang selalu mengingatkan aku tentang hari bahagia itu. Lalu, dimana kamu sekarang? Aku tatap langit biru, berharap menemukan jawaban yang realistis dari penantian panjangku. Namun, kau tak disana bukan? Dimana kamu?


Namaku Lena. Sebagai wanita di usai 20-an apa yang selalu dinantikan? Bergaun putih, memegang bunga, berjalan di altar mengucapkan janji dengan pria itu. Siapa dia? Andre namanya. Ah, kedengarannya klise, benar tak habis pikir aku dengan dia. Bisa saja dia berbicara manis, lalu pergi begitu saja. Menyuruh aku menunggu, entahlah sampai kapan.

****

Sudah 5 tahun berlalu, namaku Andre. Aku memiliki kekasih yang nan cantik. Apa mau dikata, di usia yang sudah hampir berganti kepala 3, semua berbicara tentang ‘taxedo hitam’ dan perjalanan di altar dengan wanita itu. Ya, Lena namanya. Aku rasa dia sedang menunggu cincin di jari manisnya. Apa mau dikata, apakah aku bisa? ah, lebih baik dia menunggu saja.

 

****

Katanya, aku harus menunggu. 5 tahun berlalu, terus menunggu sampai dia pergi nan jauh. Kemana dia? Aku pun tak tahu. dia hilang bagai ditelan bumi. Andre.. Andre.. Aku disini, sedang berjalan ke taman, tempat kau menjanjikan sebuah pertemuan yang tak terlupakan. Dimana kamu sekarang? Apakah kamu sudah sampai??

****

Aku berjalan menelusuri taman, tempat aku dan Lena berjanji untuk bertemu. Kepergianku adalah waktu yang cukup untuk aku berpikir. Sekarang, tanganku sudah memegang cincin yang akan aku lingkari di jarimu. Aku duduk, melihat detik waktu yang berputar, menonton lalu lalang berbagai pasangan di taman kita bertemu. Aku tatap langit, berharap menemukanmu disana, ah klise.

Waktu menjawab, penantian itu berhenti. Tepat didepan mataku, aku melihat senyummu dari kejauhan, berjalan menuju ke tempatku, hingga mobil menabrakmu, dan kau pergi seketika.

Aku disini, sayang, aku disini, buka matamu, aku disini…sayang aku takkan menghilang darimu..sayang, bangunlah… ” bisiku sambil memeluk dia yang berlumur darah

” Terima kasih Andre.. kau d…a…t..a…n….g…” balasnya lalu hening. Hanya ada air mata dan penantian tanpa dirimu lagi, Lena.

 

Mau tahu cerita #13HariNgeblogFF lainnya? Yuk, mari melipir dulu sejenak di rumah si hijau.Terima Kasih!🙂 :) 

 

Tagged:

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Menanti Lamaran at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: