#FromWorkspace – The “Second” Home

6 December 2013 § Leave a comment

Rumah pertama saya adalah rumah orang tua saya tentunya. Lalu, dimanakah rumah kedua saya? Jalanan! Yap, sepanjang hari, dari Senin sampai Jumat, saya bekerja dan menghabiskan hampir 12 jam di jalanan. Tidak sepenuhnya 12 jam, biasanya 9 jam di ruangan kantor, 4 jam dijalan.

Apakah saya enjoy? Mau jujur? Terkadang saya sangat senang dan enjoy, tetapi tidak bisa dipungkiri juga kalau saya suka “stress” dijalan. Apalagi, kalau ibu kota udah menunjukkan taringnya alias MACET TOTAL.

Tapi, ada satu hal yang saya syukuri. Saya bisa menaiki kendaraan umum seperti, bus TJ, Kopami (kendaraan baru saya, akan saya ceritakan lebih lanjut), Mikrolet maupun taksi. Kenapa? Buat sebagian orang, naik kendaraan ini adalah memalukan. Buat saya, justru ini hal yang menyenangkan. Ada banyak cerita yang saya bisa dapatkan dengan naik kendaraan umum seperti ini. Kalau tidak percaya, coba baca beberapa tulisan saya disini dan disini.

20131206_063132 (1)

Mungkin, beberapa cerita yang pernah saya ceritakan di link di atas itu barulah sebagian kecil saja. Masih banyak yang ingin saya tuliskan. Jadi, inilah salah satu resolusi yang akan saya lakukan. Menulis jurnal ini.

Lanjut membicarakan mengenai rasa syukur saya. Nah, saya mau menceritakan sedikit kisah saya. Sebelumnya, saya seorang yang TAKUT saya mengendarai kendaraan umum. Penyebabnya adalah karena mama saya termasuk orang yang parno atau takutan kalau naik kendaraan umum. Alhasil, saya sempat terbawa arusnya dia. Untungnya, saya bandel. Saat itu, saya mencoba mengubah pikiran saya.

Saya pun mulai memikirkan hal yang sederhana yaitu, kalau saya nggak berani naik kendaraan umum, saya berarti nggak akan berani untuk mengejar mimpi saya. Ya, mimpi! Saya ilustrasikan pikiran saya pada sebuah mimpi. Yang namanya mimpi, kalau cuma dipikirin doank, tidak akan tercapai kan? Nah, karena saya ingin mencapai mimpi saya, jadi saya harus berani mengalahkan ketakutan saya. Dan saya mencobanya dengan memikirkan hal positif tentang berkendaraan umum. Soalnya kalau yang dipikirin negatif mulu, nggak akan mungkin saya berani naik kendaraan umum dan melihat dunia luar.

Paksaan dan keinginan yang kuat dari dalam diri saya itulah yang akhirnya membuat saya berani untuk keluar dari rumah dan mencobanya. Hasilnya? Seratus persen saya bersyukur! Kenapa?

1. Everyday meet a new friends
Temenan sama supir bus TJ atau angkot? Kenapa harus takut? Selama kita percaya bahwa mereka orang baik, mereka pasti baik. Ya, hati-hati tetap perlu. Jangan terlalu percaya sama banyak orang dan meningan ikuti kata hati. Kalau rasa-rasanya nggak enak, tidak perlu berkenalan. Kalau rasanya nyaman? Nggak ada salahnya kok. Malah, teman itu bisa jadi sumber informasi.

Buktinya, saya jadi bersahabat sama salah satu pengguna bus TJ yang satu jurusan sama saya. Sampai sekarang, dan kalau dihitung-hitung sudah hampir 2 tahun kita berteman. Menyenangkan sekali! Selain saya bisa bercanda, kita pun sering bertukar cerita dan INFORMASI seputar bus dan jalanan.

2. Everyday hear a new stories
Cerita baru setiap hari. Kalau naik mobil, mungkin kita dengar cerita dari radio doank. Kalau naik kendaraan umum? Ya, bisa nguping sedikit-sedikit eh jadi punya cerita deh. Saya rasa hampir semua penumpang bus atau kendaraan umum itu kepoan orangnya. Jadi, hati-hati aja kalau lagi di buka HP nya, eh dibaca sama temen sebelah. *ya, kadang-kadang saya suka melakukan itu* Asalkan tidak diceritakan atau digosipkan ke orang lain, nggak masalahkan?

Nah, selain bisa dengerin cerita orang lain, kadang saya pun sering mendapatkan cerita unik. Entah ada penumpang yang “tukang ngeluh” lah, atau penumpang yang “ganteng.” *eh jadi salah fokus!*


3. Everyday look a new life

Hidup baru itu nggak cuman bisa dilihat dari kelahiran seorang bayi. Terkadang,kita bisa melihatnya dari orang-orang sekitar kita. Ya, contoh, kalau kita mendengarkan cerita ‘curhatan’ supir bus TJ atau mungkin penumpang disebelah kita, terkadang kita bisa mendapatkan input baru loh!

Saya jadi teringat, beberapa bulan lalu saya pernah mendapatkan inspirasi dari cerita seorang supir bus TJ. Cerita dia sederhana yaitu, mengenai penyesalan. Saat itu, Ia mengajukan kepada saya sebuah pertanyaan yang berisi seperti ini, “nyesel itu mening sekarang atau belakangan.” Saya pun menjawab, “mening sekarang.” Apa yang terjadi? Dia justru menasehati saya banyak hal.

Katanya, “bener neng, mening nyesel sekarang. kalau kita nyeselnya belakangan, ya kita jadi nggak mau melakukan apapun. Akhirnya, kita nyesel deh. Tapi kalau nyesel sekarang, artinya kita sudah terlanjur mencoba. Jadi, nyesel itu pun nggak lagi jadi penyesalan berkepanjangan. Justru kita bisa dapat hikmah dari situ.”

See? Naik kendaraan umum nggak selamanya menakutkan. Kalau kita bisa selalu berpikir positif setiap naik kendaraan umum, pastinya kita akan tetap aman-aman saja kok! Yang penting DOA, jangan macem-macem, dan PERCAYA TUHAN ITU ADA di samping kita menemani perjalanan kita!

Happy Friday!

Tagged: ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading #FromWorkspace – The “Second” Home at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: