#JustThought – From Zero to “Dream Come True Island”

13 October 2015 § Leave a comment

Pagi ini, saya teringat tentang anak tangga yang saya buat beberapa tahun lalu. Saya punya ilustrasi tentang “Tangga” dalam hidup.

Suatu hari, seorang anak terlahir di dunia. Tentunya, ia tidak langsung berbicara ataupun berjalan. Ia hanya bisa menangis dan menggerakan kedua tangan serta kakinya. Berharap, orang-orang di sekitarnya bisa mengerti apa yang dia inginkan.

Beberapa tahun kemudian, Ia pun mulai bisa tersenyum, lalu merangkak, duduk dan sampai akhirnya berjalan. Nggak singkat proses yang dilalui si anak itu. Mulai dia harus tersandung  dan jatuh, lalu, dia berjuang untuk bangkit dan mencoba lagi. Sampai akhirnya ia benar-benar bisa berjalan.

Setelah beberapa tahun berlalu, si anak mulai bisa berjalan dan berbicara. Tentu, begitu ia bisa berjalan dan berbicara, dunianya pun mulai berubah. Ia penuh keingintahuan. Semua hal akan ditanyakan pada orang-orang sekitar. Mulai kenapa langit itu warna biru sampai kenapa kucing itu bersuara “meong.”

Ia pun mulai mencari tahu segala hal sampai akhirnya ia mengerti. Dan tentunya si anak itu terus bertumbuh besar.

Ilustrasi singkat ini, sama seperti hidup kita. Mungkin, benar kita berada dalam perputaran dunia yang sama saja. Meski sudah berumur lebih dari 17 tahun, kadang kita punya sikap seperti si anak kecil yang baru lahir. Itu wajar. Karena selama masih hidup, kita akan terus haus akan banyak hal yang kita jumpai. Baik yang ada di comfort zone maupun diluarnya.

Perjalanan inilah yang nggak boleh kita lupakan selama masih hidup, kalau kita ingin terus menggali apa yang ada di dalam dunia ini. Nah, saya membayangkan, ketika saya sudah selesai menjalani kewajiban sebagai anak, terutama dalam dunia pendidikan dan sekolah, saya pun dituntut untuk masuk ke dalam sekolah berikutnya. Yaitu, sekolah kehidupan.

Saya membayangkan perjalanan saya itu seperti menaiki anak tangga. Saya suka sekali dengan ide dan konsep kenapa tangga itu dibuat semakin ke atas. Karena tangga itu lah yang akan membuat kita melihat ruangan lainnya, yang tentunya penuh dengan kejutan. Sederhana, tapi menarik.

Nah, sama seperti perjalanan hidup saya. Tentunya, perjalanan saya itu dimulai dari anak tangga paling bawah, yaitu masa dimana saya pertama kali keluar dari comfort zone. Mencicipi mimpi-mimpi awal saya. Mulai dari pekerjaan, ketemu orang baru dan merintis karir. Naik anak tangga pertama itu masih mudah. Kesusahannya ya, masih bisa diatasi. Paling, hanya kegalauan kecil, tentang bagaimana menemukan jati diri saja.

Begitu naik ke anak tangga kelima dan seterusnya, perjalanan saya menaikinya mulai sulit. Saya pernah jatuh, hingga saya harus mengulang lagi di anak tangga yang sama. Namun, hal itu justru membuat saya menjadi lebih semangat. Saat itu, adalah saat dimana saya melihat dunia tidak seindah bayangan saya waktu masih kecil. Saya pernah merasa begah mendengar keluhan banyak orang bahkan saya sendiri terus mengeluh. Berkata mimpi ini, itu tapi nggak pernah diwujudkan, sampai dianggap cuman bisa ngomong or diremehkan orang sekitar. Ya, tapi itu membuat saya belajar untuk menaiki anak tangga berikutnya.

Sampailah saya di anak tangga yang lebih tinggi lagi. Bahkan, untuk mencapainya, saya harus memanjat, melompat dan saya harus terus mendorong diri saya untuk terus berjalan meski saya terlampau lelah.

Inilah tempat dimana diri saya berada sekarang.  Di anak tangga ini, saya melihat perjuangan saya yang sudah saya lewati. Perjuangan yang cukup tinggi dan kalau saya jatuh lagi, seakan saya tahu bahwa saya sudah (harus) siap untuk bangkit lagi. Tapi, pastinya saya nggak akan mau jatuh lagi karena waktu saya sudah mulai “menipis.” Soalnya, diatas tangga saya sekarang ini, ada banyak banget anak tangga lainnya yang harus saya naikki.

Anak tangga saya ini terdiri dari banyak hal dalam bagian hidup saya, mulai dari mimpi tentang relationship, mimpi untuk melihat dunia lebih luas, mimpi untuk jadi profesional dan sebagaianya. Anak tangga yang harus saya lewati. kenapa saya bilang “HARUS”? karena anak tangga itu bagian dari mimpi-mimpi yang saya ciptakan setiap hari.

Di anak tangga saya saat ini, saya menyadari satu hal yang bisa membuat saya tetap bernafas adalah karena saya terus bermimpi. Sederhana, simple, but it’s not easy!

Saya sudah berada di mimpi-mimpi itu sekarang. Saya sudah berada di “mimpi tentang relationship”, “Mimpi melihat dunia lebih luas” dan “mimpi jadi profesional di dunia tulis menulis.” lalu, apakah saya harus berhenti? OF COURSE, NO! Saya masih belum bisa berhenti. Justru, saya harus terus bermimpi dan mengembangkan mimpi itu.

Meski saya sudah hidup di dalam mimpi yang jadi kenyataan, saya harus buat mimpi baru dari kenyataan itu. Untuk membuat saya tetap bernafas.

Pagi ini, ada satu teori yang menurut saya menarik, saya dengar dari Mel Robbins yang berbicara di TedX conference. Teori yang dia buat adalah ” Five Second Rule.” Idenya sederhana, ketika kita mendapatkan ide, langsung kerjakan dan jangan sampai 5 detik kemudian,”Emergency breaks” diangkat dan akhirnya ide itu hilang. Singkatnya, otak kita itu dikontrol sama dua hal, satu emergency breaks dan satu lagi adalah yang membuat kita berjalan dan menemukan banyak hal. Nah, makanya begitu kita menemukan ide itu, sebelum 5 detik berakhir, kita harus melakukan, at least, menuliskannya di kertas atau memo. Dengan begitu, kita nggak akan kehilangan ide itu.

So, here i am. I’m living in my dream come true island. am i scare? Yes of course! but, if i’m not scare, my dream doesn’t big enough, right? Yeay, i can handle it! because i want to climb my next stairs. It is really really high, but when i’m ready, i will get on the top of my stairs. After that, i would say to myself, “Thank to myself, i can push myself to get here. Even i must cry or angry, but i can have my beautiful smile ever.”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading #JustThought – From Zero to “Dream Come True Island” at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: