Nggak Pernah ada namanya “Kebetulan”

1 February 2017 § 1 Comment

Ini hanya tulisan random mengenai beberapa kejadian penting dalam hidup saya 3 bulan terakhir belakangan.

Kalau ditanya satu hal yang paling kamu syukuri dalam hidup ini, mungkin jawaban saya adalah hidup saya. Ini jawaban yang saya sendiri terkadang nggak mau mengakuinya bahwa memang hidup saya ini adalah hal yang paling saya syukuri. Ada beberapa hal yang membuat saya sering susah mengakui akan hal ini.

1. Mata saya.

Bukan, ini bukan tentang fisik saya. Tetapi bagaimana saya melihat dunia ini terlalu penuh warna warni. Akibatnya, saya jadi lupa kalau saya punya hidup saya sendiri. Apa maksudnya? Jujur, saya termasuk orang yang suka iri, walau saya tahu semua orang itu adalah suka iri.

Yap, saya akui hal itu karena saya sering melihat orang lain lebih dan lebih dari saya, dan saya ingin hidup mereka. PADAHAL, hidup saya ini sudah sama baiknya seperti mereka. Kenapa saya sampai iri sama mereka? Sederhana, karena saya terlalu berharap lebih pada Tuhan. Saya terlalu banyak ekspektasi, namun tidak terjadi dalam hidup saya. BUKAN TIDAK TERJADI, tetapi saya sendiri yang tidak mau membuat hal itu menjadi nyata.

Akhirnya, mata saya jelalatan melihat yang cantik-cantik sampai terbuai dan lupa diri kalau saya itu sudah cantik.

2.  Sifat manja!

Semua orang itu manja! atau mungkin hanya saya saja? Manja itu bukan berarti hanya sebatas “kemana-mana” dijemput. Manja itu termasuk dalam halnya mengasihani diri sendiri dan membuat orang simpati sama kita.

Kakak perempuan saya orang yang paling keras kalau saya sudah manja. Bukan dalam hal dijemput kemana-mana, tetapi dalam membuat diri saya bebas dan menjadi diri saya. Dimana saya harus memutuskan sendiri apa yang saya harus kerjakan dan bertanggung jawab.

Sifat manja memang ada sejak dari kita kecil. Hari ini, sentilan kata-kata ini membuat saya sadar, udah bukan waktunya lagi saya manja seperti anak kecil, tetapi manja seperti orang dewasa. “Treat people like you want to be treated” Perlakukan orang lain seperti kamu ingin diperlakukan oleh orang lain.

Setuju dong kalau ini saatnya kita jadi manja orang dewasa, dimana kita nggak melulu lagi bilang iya atau nggak, tetapi memanjakan pikiran kita untuk memikirkan hal yang lebih panjang kedepan sana. Masa depan memang nggak bisa dilihat, tapi bisa dibentuk dari sekarang.

Kalau ingin jadi profesional, tunjukkan kalau kamu bisa!Kalau ingin menikah, tunjukkan kamu bisa menjadi pendamping yang suportif. Kalau ingin jadi boss, tunjukkan kalau kamu bisa mengkesampingkan pribadi dan pekerajaan. Sederhana bukan, manjanya orang dewasa? Bukan nangis terus kabur, tetapi hadapin!

Beberapa waktu lalu, saya kena banyak hal di kantor yang sempat membuat saya down, putus asa dan lelah. Untungnya, saya punya orang-orang yang mengingatkan saya kalau saya itu udah manja kayak anak kecil. Dan hari ini, teguran itu mungkin nyata.

Saya mungkin manja sama hidup saya. Saya terlalu berharap, saya kerja, dapat uang, cukup. Padahal mati-matian saya tahu kalau saya butuh hidup dengan passion. Saya pun menjadi bingung dan tidak bisa berargumen apapun kepada atasan saya. Bukan, bukan karena saya tidak punya passion di sini, tetapi saya nggak mau nerima challange lain.

Apakah ini salah? Belum tentu. Tantangan itu memang membuat kita lebih maju. Tetapi, kita pun tak boleh melupakan mimpi-mimpi kita sedari dulu. Saya, masih sering bermimpi untuk jadi penulis, dan saya terlalu manja sama diri saya, Akhirnya saya pun jadi begini-begini saja.

Teguran hari ini adalah bagaiaman kita memilih dan mengambil tantangan itu. Saya sering tidak terlalu serius dengan tantangan, tetapi ini lah saatnya saya serius dengan tantangan. Saya tahu apa yang harus saya lakukan, namun seringkali saya perlu dukungan dari orang lain.

PADAHAL dukungan diri sendiri itulah yang PALING PENTING!

3.  Telinga saya

Ini hal terakhir, yang saat ini saya ketahui, adalah yang membuat saya diam terus ditempat. Alias nggak bisa naik ke tangga berikutnya. Saya terlalu banyak mendengar dan mendengar dan mendengar. Keluhan si A, si B entahlah ngapain, baik dari keluarga, mungkin dari keluarga terbanyak.

Alhasil, saya pun jadi mengeluhkan si A, si Be ngapain dan seterusnya. Apa yang saya dengar membuat saya jadi banyak berekspektasi dan menyalahkan sekitar saya. PADAHAL mungkin tidak ada yang perlu disalahkan.

Boleh mendengar, tetapi pilihlah apa yang harus dimasukkan ke dalam hati, apa yang tidak perlu di masukkan ke dalam hati. Ini hal yang selalu membentengi saya. Kenapa? karena saya terlalu sering menyerap semuanya. Hingga akhirnya saya menjadi seorang yang sensitif.

PADAHAL apa yang salah pada diri saya, dari kacamata orang lain, itu akan membuat saya lebih baik lagi. Begitupun dengan kita semua!

Saya teringat, pacar saya marah pada saya karena saya terlalu banyak mengeluh dan lebih lagi saya banyak mengkritik dia. Tentunya dia marah! Saya akui, kalau saya diperlakukan seperti itu, saya pun akan melakukan hal yang sama. Marah! Tapi, apakah dia marah berkepanjangan? Tidak, dia justru menegur saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Inilah makanya kita harus memilih apa yang perlu kita dengar. Karena kita punya hak untuk memilih apa yang boleh terjadi dalam hidup dan apa yang tidak perlu terjadi dalam hidup.

 

Apakah HIDUP ADALAH KEBETULAN? Tidak, menurut saya! Tuhan itu memang baik. Saya teringat 2 tahun yang lalu, mungkin lebih, saya terus berdoa meminta dipertemukan seorang kekasih, seorang yang akan jadi suami saya dan ayah buat anak-anak saya kelak. Dan Tuhan mempertemukan, bukan dalam sebuah kebetulan tetapi dalam sebuah ketidakpastian dimana waktunya tepat.

Saya bertemu pacar saya. Dan ini yang membuat saya makin mensyukuri hidup saya, selain saya memiliki keluarga yang tidak sempurna. Kenapa? Karena Dia banyak menegur saya dengan keras dan menggunakan hati yang tulus untuk menjadikan saya lebih dewasa.

Sama seperti keluarga saya, tidak sempurna, menegur saya dengan keras, dan menjadi kan saya lebih dewasa. Terutama dalam memilih jalan hidup.

Kalau saya boleh sebutkan apa yang membuat saya beruntung? Inilah yang bisa saya tuliskan. Berkat Tuhan yang melimpah.

  1. Pekerjaan saya. Dari awal saya kerja sampai sekarang saya berada
  2. Mimpi saya menjadi seorang penulis sejak dari SMA
  3. Bertemu orang-orang yang suka menulis
  4. Ngumpul dan banyak diskusi sama orang-orang yang suka nonton film dari berbobot sampai yang cheesy
  5. Punya pacar yang hobinya mirip, dan sesuai dengan selama ini saya doakan. Semoga perjalanan ini bisa sampai menikah, kakek nenek dan ampe dipanggil Tuhan.
  6. Punya keluarga yang nggak sempurna, tetapi supportive. Terlalu bawel, tetapi memberikan cinta yang nggak berkesudahan
  7. Harta yang saya miliki saat ini, belum sampai bisa beli mobil, tetapi bisa membawa saya mengunjungi 7 negara impian saya, terutama di benua Eropa sana
  8. Sahabat terbaik saya. Cuman ada 5 orang cewek! Tetapi, mereka supportive dan membuat saya menjadi saya seperti saat ini. Mengajarkan saya untuk menjadi ibu kelak, dan seorang istri di kemudian hari.
  9. Mimpi saya untuk mengunjungi lebih banyak negara lagi sama pacar saya
  10. Freelance job saya sebagai penulis dimana saya bisa membuktikan kalau saya lebih TEKUN LAGI MENULIS, saya PASTI BISA BIKIN BUKU dan laris manis dipasaran.
  11. Cobaan-cobaan dalam hidup saya, dari hari demi hari yang seperti roller coaster tetapi membuat saya tetap berdiri sampai sekarang
  12. dan banyak hal lainnya lagi.

 

 

Jadi, tidak ada yang kebetulan, semua PASTI PAS! 🙂

 

 

Advertisements

§ One Response to Nggak Pernah ada namanya “Kebetulan”

  • mfadel says:

    Sepakat! Dan kita, para aktor, sudah mendapat jatah main sendiri dari Sang Maha Kuasa akan ke mana cerita kita nanti. Kita cuma perlu improvisasi dan menampilkan yang terbaik!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Nggak Pernah ada namanya “Kebetulan” at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: