Become An Adult

22 February 2017 § Leave a comment

Siapa yang tidak mau jadi dewasa? Well, mungkin ada saja yang memilih hidup seperti biasa tanpa perlu jadi dewasa. Tetapi, pilihan itu tidak ada pada saya. Beruntung!

Mengapa saya bilang beruntung kalau saya bisa memilih jadi dewasa? Karena saya bisa melihat dunia, tanpa memakai kacamata orang lain, termasuk orang tua saya yang mendidik saya sejak kecil.

Saya tumbuh di keluarga yang tidak terlalu keras tetapi punya kekuatan untuk mempengaruhi hidup saya. Untuk itulah, jiwa saya sering tidak tenang karena saya merasa terus dijaga oleh mereka.

Pemberontakan yang ada di dalam diri saya, bukan berarti saya kurang ajar. Saya hanya mengikuti pilihan hidup saya dan kata hati saya sendiri. Saya punya mimpi yang mungkin, dan pastinya, orang tua itu tidak mengerti. Mau saya jelaskan bagaimana pun, yang mereka pedulikan adalah apakah menghasilkan uang? Ya, itu yang saya tangkap dari keluarga saya.

Beruntung, saya sedikit demi sedikit bisa membuktikan bahwa mimpi saya ini bukan acap kosong belaka, yang nggak ada hasilnya. Meskipun, sampai sekarang mungkin pekerjaan saya ini tidak dipandang “wah” oleh mereka, karena hanya sedikit orang yang memilih pekerjaan ini. Menjadi penulis, emang ada duitnya?

Kalau kata banyak orang, pakar, motivator dan lainnya, passion is what makes you happy. As long you have a passion, your life will be more colorful. True, saya percaya sama hal itu untuk itulah saya melakukan pemberontakan untuk mencapai mimpi saya.

Apakah saya egois? Mungkin, sebagian orang berpendapat seperti itu. Tapi, kalau dilihat dari kacamata yang lebih besar, saya yakin, keinginan orang tua saya adalah agar saya bahagia. Itulah yang saya sering dengar dari papa saya. Beliau, orang yang cukup supportive untuk pilihan yang diambil anak-anaknya.

Berbeda dengan Mama saya, beliau cukup konservative dalam melihat pilihan anak-anaknya. Sehingga kadang-kadang dia menjadi anak-anak dan kamilah yang menjadi orang tuanya. Karena pada akhirnya, kami pun menjadi pemberontak yang sedikit keras, untuk membuktikan kepadanya kalau kami bisa hidup dengan pilihan kami dan kami sudah dewasa. Sebagai anak, ini bukanlah kurang ajar. Kami hanya ingin mengikuti kata hati kami, yang kadang, tidak bisa dimengerti olehnya. Tentunya, tentang pertanggung jawaban dari apa yang kami lakukan. Resiko apapun yang terjadi, kami tidak boleh lagi merengek pada mereka dan harus bisa berdiri sendiri.

Anyway, pandangan kedua orang tua saya inilah, yang terus menghantui saya, seperti apa 5 tahun mendatang kedewasaan saya. Sampai tahap manakah kelak, mungkin 20 tahun mendatang, saya bisa mendidik anak-anak saya. Apakah menakutkan? Well, saat ini hanya 2 hal yang membuat saya takut, kedewasaan dan mimpi saya.

Namun, saat ini saya akan membahas mengenai kedewasaan. Apakah kedewasaan cukup sampai keluar rumah dan tinggal sendiri? Saya rasa tidak pernah cukup sampai tahap itu. Bahkan, sampai tahap menjadi istri dan orang tua pun, kedewasaan itu terus menajdi pembelajaran yang terberat.

Apakah kedewasaan itu hanya sebats mencari uang dan mengaturnya? Lebih dari itu! Bisa saya bilang, kedewasaan itu adalah lebih padabagaiman kita melihat uang nggak cuman sekedar uang tetapi sebagai investasi, bagian dari hidup. Bukan sebagai yang menggelapkan padangan kita akan hidup, tetapi sebagai motivasi yang positif untuk membuat kita jadi lebih baik lagi dalam hidup.

Kedewasaan itu, dalam pandangan saya adalah saatnya lebih banyak memberi daripada meminta. Lebih banyak mencintai daripada meminta dicintai. Lebih banyak mengerti daripada meminta dimengerti. Lebih banyak melayani daripada dilayani Tentunya, ini tahap yang paling sulit.

Kenapa? Karena sejak kecil, kita terbiasa diberikan apapun yang kita inginkan. Kita pun akan tumbuh jadi orang yang haus akan pemberian tersebut.  Untuk mencapai tahap kedewasaan, kita perlu melakukan perubahan. Inilah tahapan yang paling sulit.

Saya pun masih terus belajar, entah pada sampai umur berapa saya perlu belajar kedewasaan. Karena kedewasaan itu mungkin berlaku sampai kelak kita dipanggil pulang. Bahwa, orang tua kelak harus rela anaknya bertanggung jawab akan hidupnya sendiri, pilihannya sendiri, mulai dari ia akan menikah atau tidak, bekerja atau wirausaha, dan banyak hal lainnya, yang mungkin akan membuat mereka tidak suka dan berat hati. Bahwa kelak, kita pun harus rela bertanggung jawab akan hidup kita, baik sebagai anak, sebagai istri, sebagai sahabat.

Inilah mungkin kedewasaan sesungguhnya. Banyaknya kesalahan dan keberhasilan yang akan terjadi dalam hidup ktia, tentu inilamenunh yang akan menuntut kita untuk menjadi lebih baik lagi.

 

Fiuhh.. akn sulit, tapi percayalah, bahwa kita pun bisa menjadi dewasa sampai kita harus pulang ke rumah Bapa di surga. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Become An Adult at Catatan Si Hijau.

meta

%d bloggers like this: